Kenapa Harus Jogja? (Ketika Semua Kenangan Begitu ‘Berkarat’ di Hatiku)
Yogyakarta… kenapa ia begitu istimewa bagiku? Jika boleh dianggap demikian, apa itu karena gudeg-nya yang enak? Atau Kaliurang-nya yang sejuk di lereng Merapi yang terkenal itu? Atau pula, karena Candi Prambanan dimana kisah cinta sejati Rama dan Shinta sering dipentaskan?
Yogyakarta – atau yang sekarang diusahakan dieja Jogjakarta – adalah ibukota dari propinsi dengan nama yang sama. Ia sebenarnya tidak lebih istimewa dari “pulau liburan”; Bali, yang dari namanya jelas menyuratkan merupakan tujuan utama para turis saat terbebas dari rutinitas kerja mereka. Jogja, bahkan, pada penilaian terbaiknya, cukup dibandingkan dengan Solo, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah – satu jam perjalanan ke arah timur.
Jadi, sampai saat ini tentu masih berupa rasa penasaran mendalam bagi siapa saja yang mengetahui betapa berartinya Jogja bagiku. Sebagai misal, bukanlah gudeg yang membuat aku terkenang akan Jogja, tetapi dengan siapa aku menikmati gudeg yang membuat Jogja tak lekang oleh waktu dalam ingatanku.
Tetapi, apakah sesederhana itu – mungkin demikian argumen yang coba dikemukakan sebagian orang yang meragukan perasaanku itu – untuk memiliki sebuah kenangan yang sebenarnya tidak cukup memadai untuk tetap utuh tersimpan dalam ingatanku.
Coba kami tanyakan padamu – mungkin mereka akan melanjutkan seperti itu – sudah berapa kali kamu mengunjungi Jogja dan terutama sekali bagaimana kamu memanfaatkan kunjunganmu di sana?
Dan aku akan menjawab diiringi sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa aku akan dianggap gagal memenuhi praduga mereka yang mengajukan argumen itu bahwa hanya dibutuhkan satu tanganku yang tidak meliputi seluruh jemariku di sana untuk mengakumulasikan seluruh kunjunganku ke Jogja.
Sebenarnya, secara linear, dapat dikatakan bahwa semakin sering kamu mengunjungi suatu tempat, maka semakin kuat kamu mengingatnya yang itu berarti semua kenangan saat kamu di sana terekam kuat dalam ingatanmu.
Jadi, sesungguhnya – demikian mereka mungkin menyimpulkannya – aku tidak punya alasan kuat bahwa Jogja begitu penting bagiku untuk terus dikenang.
Setelah mereka terlihat puas karena berhasil mematahkan pendirianku tentang Jogja – entah untuk alasan apapun – aku meminta giliranku untuk mengajukan serangkaian pertanyaan kepada mereka.
Coba pikir satu hal, demikian aku berkata setelah mendapat giliranku, yang kelihatan tidak begitu penting tetapi ternyata pengaruhnya begitu kuat dan mengakar. Satu hal ini tidak membutuhkan logika. Ia kadang malah terlihat irasional, tetapi tetap saja ia mampu menyeret mereka yang memilikinya melakukan secara sadar apa yang bagi sebagian orang terlihat mustahil untuk dilakukan.
Itu adalah usahaku “membela diri,” mengajukan semacam dalih – meski tidak seharafiah demikian – tentang betapa Jogja begitu penting hingga saat ini.
Bukanlah jalanan Malioboro yang membuatku tak bisa melupakan Jogja ketika bersamanya aku menyusuri sepanjang malam. Bukan pula sendratari Rama dan Shinta yang memikatku sehingga Jogja terekam kokoh dalam benakku saat menyaksikannya di sebelah gadis yang tidak kalah cemerlangnya dari rembulan yang selalu menerangi sendratari bernaungkan langit berpurnama itu dan selalu menggenggam kuat jemariku seolah-olah ia tidak ingin berpisah dariku. bukan pula hamparan pasir hangat Laut Selatan yang kami jejakkan kaki kami bersama sembari menikmati mentari yang perlahan menuju peraduannya untuk kemudian digantikan sang dewi malam sementara tangan kami tak lepas untuk terus bersatu erat. Itu semua kejadian romantis, percayalah. Dan, tentu saja, paling diharapkan untuk dijalani bersama oleh baik pasangan kekasih yang sedang kasmaran maupun mereka yang telah ‘berumur’ menjalani cinta mereka.
Tetapi, itu sayangnya, bukan yang aku alami.
Hingga di sini, sepertinya aku benar-benar tidak menghadirkan satu alasan kuat tentang Jogja-ku itu. Ataukah aku sedang membicarakan Jogja yang lain? mereka mulai kasak-kusuk; berpikir bahwa aku sepertinya sedang berusaha “mengacaukan” peta Indonesia. aku menenangkan mereka dengan senyumku, yang selalu aku lakukan setelah setiap hari ia selalu tersenyum padaku dalam perasaan yang teramat misterius bagiku (percayalah, ia bukan Monalisa jika sempat kamu berpikir seperti itu).
Di kota itu; Jogjakarta – ketika waktu seharusnya berhenti ketika kita menikmati setiap sudut kota – aku sejatinya tak pernah beradu mata dengannya. Tetapi, ia terlalu penting bagiku untuk disingkirkan dari separuh hatiku yang pernah ia sekali tepat menembus di tengah-tengah hatiku. Lagipula, aku tak menginginkannya dibiarkan tak terisi – atau katakanlah, ia memang berhak atas separuh hatiku itu.
Ia tak menuntutnya. Aku yang menyediakannya. Jadi, aku mengerti bagaimana menikmati semua romantisme itu dengannya tanpa ia harus menyadari bahwa aku sedang berada tepat di sampingnya. Ia pasti tak peduli karena mungkin tak sedikit pun aku terlintas dalam pikirannya, meski hanya sekelebatan bayangan.
Inilah kenapa Jogja begitu berharga dan penting bagiku untuk terus dikenang dan tersimpan meski itu berada di alam bawah sadar – yang sebenarnya lebih lama tersimpan dan teringat. Karena di sana; di Jogja itu, entah tepat dimana, berdiri seorang gadis yang bahkan tak pernah menyadari bahwa aku memiliki perasaan ini kepadanya yang sanggup menerjang – mungkin seperti badai Gustav yang sekarang melanda – hatiku, menyapu seluruh permukannya untuk menutupinya dengan senyumnya, wajahnya, dan – terutama – sepasang mata indahnya. Ia membuatku merasakan semua sensasi yang memang aku belum pernah merasakannya. Dan, ia melakukannya dengan cara yang sungguh indah sehingga aku tidak keberatan mendapati – bahwa demikianlah kenyataannya – ia tidak menempatkan aku di hatinya seperti yang aku lakukan padanya di hatiku.
Cinta dan jatuh cinta terasa irasional dan tidak logis untuk dimengerti. Aku sebenarnya menyadari ia terkadang sering menyakiti dan menyakitkan. Tetapi ia pula yang menguatkan diriku untuk rela merasakan sakit dan kepedihan itu. Adakah logika, dalil, rasio, atau apa saja yang bisa menjelaskan fenomena itu? Bahkan, cinta sesekali bisa menebasmu. Tetapi, justru karena itulah aku menyongsongnya dan menjemputnya. Dan, itulah yang aku lakukan hingga saat ini. Apakah menyenangkan teriris oleh cinta?
Tanyakan padaku. Karena aku punya jawabannya.
melupakannya
Ah, ternyata wanita juga bisa berbohong. Dan aku bisa jadi adalah yang pertama menjadi korban gombalan mereka. Aku bukannya sedang mengeluh. Aku berusaha memberi gambaran obyektif untuk menyeimbangkan stereotip yang ‘melegenda’ di masyarakat bahwa mereka; wanita dan perempuan, telanjur menjadi korban mulut manis para lelaki.
Dia berkata bahwa dia tidak berniat melukai perasaan siapapun. Jadi, dia hati-hati dalam berucap, bertindak, dan berperilaku. Hm, meski menurutnya ia telah berusaha sebaik-baiknya memegang komitmennya, toh masih ada ternyata yang tersakiti hatinya.
Aku tidak bermaksud – dengan menulis ini semua – menuntutnya untuk meralat keputusannya itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Karena itulah – ketidakpedulianku – justru merupakan bentuk penghormatanku terhadap dirinya dan situasi yang berkembang belakangan ini.
Aku tidak menangis. Buat apa? Buat apa menangisi bunga yang telah dipetik orang lain? buat apa meratapi madu yang telah direguk habis? Apa untungnya? Sinis mungkin terasa lisanku mengucap demikian. Demikianlah adanya. Aku, kali ini, tidak akan mendengar nuraniku. Sebagai gantinya, aku lebih memilih bersepakat dengan ego-ku yang terluka. Karena itu lebih melegakan dan memuaskan dalam menuntut balas, meski frase itu mungkin tidak seharafiah maknanya dalam perwujudannya.
Inginkah kamu aku ceritakan tentang apa yang aku maksud dengan ‘menuntut balas’? meski kamu mungkin tidak tertarik, aku tidak akan memaksamu untuk mendengarku bercerita tentang maksudku itu. Aku tentu tidak boleh mengharapkan takdir buruk berlaku atas dirinya – dan pasangannya itu. Aku juga tidak pantas mengutuk mereka. Semua itu adalah hak tunggal Tuhan. Tak ada yang bisa menyamainya.
Aku justru ‘bekerja sama’ dengan Tuhan. Mengerti maksudku? Aku mengikuti saja kemana Tuhan mengarahkan takdir mereka. Dan ketika tiba waktunya, yaitu pada saat ia paling membutuhkanku daripada yang lainnya, itulah saat yang membuatku tersenyum. Saat itulah kamu mengerti bahwa makna ‘menuntut balas’ telah kamu pahami saat kamu melihatku mengambil keputusan itu.
Aku tidak akan mengulurkan tanganku. Bahkan, jika ia sekarat pun aku akan melewatinya begitu saja. Percayalah padaku bahwa aku akan memegang kata-kataku ini. Aku tidak mengharap itu terjadi pada suatu yang aku tetapkan sesuai kehendakku. Aku hanya mengiringinya dari jauh, dan ketika ia melihatku dengan pandangan memelas saat terjatuh, aku akan memilih berlalu darinya.
Jika aku tidak tegas seperti ini, aku berarti tidak punya karakter. Tiap orang harus memunculkan karakternya. Karakterku adalah berkomitmen pada kata-kata dan keputusanku.
Sekarang saatnya kembali melanjutkan hidup, setelah sebelumnya terombang-ambing dalam kemabukan kepayang sejak kehadirannya yang palsu itu. Ia mungkin bukan penipu, tetapi jelas ia adalah wanita yang tidak punya perasaan – tidak seperti perkataan lisannya yang manis itu. Untuk apa ia menabur pesona di hatiku kalau akhirnya ia sendiri yang merenggutnya dengan paksa dari hatiku? Untuk apa ia tawarkan manisnya madu kalau akhirnya ia malah menyayat hatiku dengan kata-katanya sendiri? Menurutmu; apakah ia harus menanggung akibatnya atas perbuatannya kepadaku? Aku tidak menginginkan demikian. Sungguh. Bisa melupakannya. Hanya itu keinginanku semata. Dan aku sedang melakukannya.
Yang Tidak Berubah Adalah Perubahan Itu Sendiri
Bill Gates (bersama dengan Paul Allen) menjadi semacam “Che Guevara”-nya dunia komputer ketika merevolusi mesin pintar ini. Bill Gates memperkenalkan seperangkat alat hitung yang seukuran meja belajar (kelak disebut Personal Computer) dari yang sebelumnya sebesar lemari dan kulkas.
Ponsel pun demikian. ketika sistem komunikasi GSM pertama kali diperkenalkan, piranti yang digunakan begitu besar dan mencolok, sehingga mungkin “bisa dipakai untuk melempar anjing”. sekarang? semuanya mungil-mungil, manis terlihat, dan cocok dan nyaman di genggaman.
Ponsel pula yang “bersusah payah” menggabungkan berbagai macam sarana audio dan visual menjadi satu yang disebut sebagai konvergensi, sebentuk revolusi dalam dunia komunikasi. kini, kita pasti tidak perlu repot-repot membawa telepon, kamera (digital atau analog), radio, walkman. semuanya bisa ditemukan hanya dalam satu piranti: ya ponsel itu (adakah merek yang disebut
)
Dalam sepakbola, kelahiran Total Football bisa jadi merupakan bentuk kegelisahan atau mungkin “rasa muak” alm. Rinus Michels melihat cara Italia memainkan gaya bermain “Catenaccio” yang negatif. terobosan yang dilakukan Rinus Michels itu terbukti mampu menghadirkan sepakbola indah, berdampingan dengan “Jogo Bonito”-nya Brasil, namun tetap penuh tenaga. kecuali Yunani di Euro 2004, berbagai negara di Eropa dan tentu saja termasuk Belanda sendiri, yang pernah menjuarai Euro sepanjang masa punya kemampuan memainkan sepakbola indah.
Sstt… ngomong-ngomong soal perubahan, dunia mungkin tidak akan seperti apa yang sekarang terlihat dan kita rasakan kini seandainya Karl Marx tidak menulis bukunya yang fenomenal itu, Das Kapital. “buku keramat” (yang anehnya sangat sedikit sekali mereka yang mampu menyelesaikan membacanya) kaum pergerakan itu memicu serangkaian efek domino demi perubahan dunia: Peristiwa Bolshevik di Rusia, kemunculan NAZI di Jerman, dan sedikit banyak, Bung Karno di Indonesia.
Baiklah. Jangan berpanjang-panjang dengan sejarah. Apa benang merah dari semua larik-larik paragraf di atas? Tidak bisa mengambil kesimpulan? Baiklah. Saya perjelas lagi. Sebutir benih yang ukurannya tidak lebih dari sebongkah kerikil adalah contoh nyata bagaimana perubahan itu terjadi. Ia dapat tumbuh mula-mula menjadi sepucuk tunas. Dan tunas itu tidak butuh waktu untuk menjelma pohon besar nan rindang.
Perubahan itu selalu terjadi. Marx, Darwin, Freud, Hitler, dan Bung Karno telah mengubah wajah dunia, meskipun ada yang tidak menyukainya. Yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Mengadopsi pidato presiden pertama R.I., Bung Karno, pada perayaan Sewindu kemerdekaan, perubahan itu tidak boleh berhenti. Sebab siapa yang berhenti, ia akan digiling, digilas oleh perubahan itu sendiri. Bagaimana dengan anda?
Apakah Ia Mencintai Anda?
Anda sedang jatuh cinta ya? atau mungkin sedang berbunga-bunga karena gadis pujaan anda menerima dan membalas sepenuh hati setiap pesan singkat yang anda kirimkan? atau jangan-jangan anda sedang membayangkan sedang duduk di pelaminan saat pernikahan, tidak dengan yang lain, dengan si dia?
Berharap seperti itu dan semacamnya tentu boleh-boleh saja. meskipun belum tentu dia rela menghabiskan sisa hidupnya dengan anda, tidak ada salahnya berpikir positif melihat perkembangan hubungan yang anda jalani bersamanya. lagipula, masa-masa jatuh cinta adalah sebuah periode dimana “semuanya serba terbalik”. jadi, tidak heran kalau ada ungkapan tentang orang jatuh cinta bahwa “telek pitik iku iso rosone koyo coklat“
Baiklah. apapun perasaan yang anda alami, itu hak anda. sah-sah saja. anda ingin katakan “saya gila karena cinta” semua orang yang mendengarnya hanya tersenyum. mereka tidak marah. apalagi protes. karena demikianlah cinta. anda mungkin baru akan dikirimkan ke Pakem atau Lawang kalau anda “tega” tidak bercelana sama sekali saat pergi ke pasar, misalnya.
Tetapi, sanggupkah anda menghadirkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dalam hati anda: apakah ia sesungguhnya mencintai saya? apakah ia telah mengenal siapa saya sesungguhnya? dan, jika kelak ia mengetahui segalanya tentang saya, masihkah ia mencintai saya?
naaah, untuk membantu anda menjawab semua kegundahan dan kegelisahan anda itu, coba anda uji nyali anda dengan melakukan hal-hal berikut ini. kesemuanya jangan lantas dijadikan patokan bahwa kelak kalau anda berhasil melakukannya, ia akan makin lengket pada anda. tetapi, setidaknya yang anda lakukan itu bisa membantu si dia membuat keputusan paling penting dalam hidupnya.
-
coba anda kentut di depan kekasih anda. kalau perlu, anda makan semua jenis makanan yang “output”-nya itu bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi orang di sekitar anda; kira-kira 4 jam sebelum bertemu si dia, misalnya jengkol, sayuran, kacang. untuk menimbulkan “efek suara” segelas susu sapi murni perlu anda teguk agar “senjata pemusnah massal” itu bisa “menggelegar”.
-
misalnya anda sedang pilek yang hidung anda penuh dengan lendir. beranikah anda membuang ingus itu di depan kekasih anda atau anda goyang-goyangkan hidung anda hingga terdengar bunyi “keplek-keplek-keplek-keplek”
-
maukah anda mengorek-ngorek gigi anda dengan tusuk gigi di depan pacar anda? lebih berani lagi, setelah sisa makanan di mulut anda berhasil anda korek, coba anda tempelkan di hidung anda sendiri dan hidung si dia. pasti dia …….
Jika anda telah lakukan semua itu dan dia tenang-tenang saja dan mungkin malah makin terhibur (apa iya orang yang dikentutin bisa ketawa-ketiwi?), saya ucapkan selamat. percaya deh, dia yang akan merana kalau anda tinggalkan dia. tetapi kalau tidak, anda sebaiknya bersiap-siap melupakan semua kenangan manis bersamanya. serius. sueeerrr!!!
setir sibuk
Anda tahu kafe waralaba Starbuck’s? Warung kopi gaul buat kalangan urban itu sekarang harus bersiap menghadapi ‘kompetitor’. Dan ini tidak main-main karena Starbuck’s mungkin akan tergerus pelanggannya. Namanya Setir Sibuk. Tapi tolong catat beberapa hal berikut: ‘kafe’ itu tidak mewaralabakan usahanya, setiap orang bebas ‘keluar-masuk’ dan – ini yang paling penting – tidak ada Hot-Spot untuk akses internet. Yang ada hanyalah hot-stove (kompor panas). Bagi anda yang tinggal di sekitar Landungsari, ‘kafe’ Setir Sibuk mungkin tidak asing lagi, terutama bagi penikmat kopi dan jajanan gorengan.
Kafe Setir Sibuk sebenarnya hanyalah sebentuk usaha jualan gorengan yang menu utamanya adalah pisang, weci, tempe, menjes yang semuanya, tentu saja digoreng. Disebut Setir Sibuk – sebagai gimmick untuk menyamakan penyebutannya dengan Starbuck’s – karena jualan itu terletak di pintu keluar terminal Landungsari sedikit bergeser ke timur. Suasana yang khas adalah anda bisa mengisi perut sejenak baru kemudian meloncat cepat ke angkot pilihan anda yang berseliweran. Percayalah bahwa demikianlah kenyataannya.
Tetapi sebenarnya dimana letak keistimewaannya sehingga lantas terburu-buru perlu disaingkan dengan Starbuck’s? Boleh percaya boleh tidak bahwa kesamaannya ada pada eksklusivitas. Saya yakin tidak semua orang bisa masuk Starbuck’s – termasuk saya. he..he..he.. dan ‘kafe’ setir sibuk menjadi satu-satunya jualan gorengan yang hanya buka….. DI PAGI HARI. Bahkan, ketika orang baru saja merapikan sajadah dan melipat mukenanya setelah shalat shubuh, ‘kafe’ itu sudah buka. Percayalah.
Ngopi, ngeteh atau minum apapun di sore hari mungkin sudah sering dilakukan. Sudah biasa. Tetapi, ngopi di awal hari; ketika langit masih merah dan para setan mungkin baru kembali dari menggoda manusia di malam sebelumnya, plus cangkru’an? pasti belum jamak dilakukan. Dan yang lebih mengagumkan lagi kalau anda berkenan menukar tidur anda di pagi hari dengan nongkrong di ‘kafe’ itu adalah suasananya. Karena letaknya persis di tepi jalan – terima kasih untuk pak polisi yang tidak meniupkan sempritannya – kita disuguhi berbagai pemandangan jalanan – tentang hikmah yang bisa diambil, tentu semuanya berpulang pada penglihatan yang menjalaninya. Selain itu, kita pun bisa merasakan perubahan langit. yang tadinya suasana gelap dan kemerahan berubah menjadi terang benderang sehingga jerawat dia yang ada sebelah kita dapat lebih jelas terlihat (bidadari, bukan setan kesiangan).
Oh ya… setir sibuk tidak buka 24 jam. Pukul 08 pagi kafe itu pasti sudah tutup. Kalau tidak, SatPol PP pasti akan ‘menyapa’ pengelolanya.
EPILOG
Kini semunya telah normal seperti seharusnya, seperti yang kamu mau. Tetapi tidak seperti yang aku mau. Bayangkan jika kamu mengambil mainan dari seorang anak kecil yang biasa ia memainkannya. aku telah kehilangan “kesayanganku”. Kehilangan yang mungkin, hingga saat ini, tidak bisa ditebus dalam cara apapun, dengan cara apapun. Sebuah kehilangan yang membuatku mengutuk kenyataan ini, berharap aku bisa dikembalikan ke masa lalu untuk memperbaiki segalanya.
Hadapi ini. Bukan kenyataan yang kamu pijak jika kamu terus menginginkan masa lalu. Aku berusaha bangkit. Sekuatnya. Mengobati “kecanduan” ini.
Satu hal yang bisa “menghiburku” dan mengobati “sakaw” ini adalah kenyataan yang aku dengung-dengungkan sendiri bahwa kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku. Terkadang ini tidak mudah karena aku telanjur yakin aku-lah yang terbaik untukmu. Dunia ini tidak hanya kamu para lelaki yang mengisinya. Jadi, aku memilih cara yang wajar. Alamiah. Realistis. Mungkin bagi orang lain, cenderung fatalis. Pasrah begitu saja. Bahwa jika berjodoh, sesulit apapun ia terlihat untuk bersatu, maka pasti akan berjodoh. Dan kalau tidak berjodoh, sekeras apapun usaha untuk mempersatukan, pasti tidak akan bisa.
Aku menghormatimu sebagai wanita yang pernah singgah di hatiku, menghadirkan sensasi aneh di jantungku, membuatku mampu seolah-olah menaklukkan dunia. Tetapi kalau sekarang aku terlihat “berantakan” yang sepertinya gara-gara kamu, itu sebenarnya bukanlah salahmu. Banyak hal lainnya yang layak diajukan sebagai sebab kenapa aku tidak pantas – aku berharap belum – bersanding denganmu, meski terkadang aku membenci kenyataan bahwa ia akan bermuara pada diriku.
Tetapi, kamu mungkin juga lebih baik jika tanpa aku. Jika lebih dalam aku melihat ke diriku, aku sesekali meragukan kamu bisa menerima diriku apa adanya. Menurutku, banyak hal yang belum kamu ketahui tentang aku yang jika kamu mengetahuinya kamu mungkin menyesal telah “menyatu” denganku. Sebelum itu terlambat, sebelum itu semua terjadi, dengan tujuan menghibur diriku, sudah tepat keputusanmu sekarang menarik diri.
07 Juni 2008
selipat 7
Anehnya, aku yang separuh hatiku telah dicampakkan masih bisa menyisihkan separuh hatiku yang lainnya tetap hanya untuk kamu. Selepas libur panjang, semuanya kembali seperti biasa. Kamu berlaku biasa. Aku masih sama dalam memperlakukanmu seperti sejak pertama ketemu. Seolah tidak terjadi peristiwa besar yang seharusnya menjadikan para pelakunya diliputi kebencian dan penyesalan kesumat bersamaan. Untungnya, tak seorang pun yang mengetahui “affair”-ku itu. Dengan pintarnya, aku bersikap seolah-olah aku mengenalmu hanya sebatas nama belaka. Tidak lebih. Dan mereka percaya. Di belakang kalian aku beraksi.
Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi aku benamkan di antara lututku kala sedang duduk. Semua kenangan bersama kamu terasa sangat menyesakkan ketika kenyataan ini harus ditakdirkan terjadi. Aku seharusnya tidak bisa berlama-lama di masa lalu dan harus segera menjemput masa depan. Sayangnya, mereka terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Dan aku masih berusaha mengembalikan semua itu.
Awalnya, aku senang ketika kamu putuskan tidak memperpanjang “salah paham” antara kita. Aku pikir masa silam sedang terulang lagi. Aku sudah begitu senang membayangkan semua kenangan yang pasti akan kita ulangi lagi dan mungkin lebih baik lagi.
Satu pesan aku sampaikan untukmu sekedar menyapa. Hanya diam pada malam itu yang mengusik penantianku. Aku coba sekali lagi, kali ini dengan alasan yang semoga memantik kesediaanmu membalasnya. Aku kembali mendapatkan kosong. Engkau terlihat sepertinya masih bergeming. Mungkin alatnya dan dirinya sedang terpisah jauh. Aku menghibur diri, membayangkan bahwa di tempat barumu ini kamu lebih leluasa mengatur hidup dan keinginanmu sendiri. Hingga aku kelelahan menantimu dan terbangun saat hawa dingin awal hari membangunkanku yang tak berselimut, alatku tetap tak menampilkan satu pun pesan singkat darimu.
Aku sedih. Keputusanmu tidak mengakhiri dahagaku akan semua kenangan yang dulu pernah kita buat bersama. Atau dia mungkin sakit hati? Berulang kali aku berusaha menghilangkan dugaan polos seperti itu, tetapi semakin kuat aku berusaha, semakin dalam ia mencengkeram seluruh jiwa dan perasaanku, mengesankan bahwa benar adanya demikian. Tak bisa dipungkiri, bahwa kekeliruan dan kebodohanku telah membuatku kehilangan salah satu momen terbaik dalam hidupku, yang mungkin tidak akan terulang lagi. A chance in a lifetime. Rupanya, aku pikir, keputusanmu mengakhiri “perseturuan” kita aku salah menafsirkannya. Kamu. Aku. Kita memang berbeda.
selipat 6
Kepulanganmu menjadi dilematis bagiku. Di satu sisi aku senang bahwa semua yang dulu pernah kita lakukan bersama, meski sebatas pesan singkat, akan kembali menjadi sebuah rutinitas. Di sisi lain, sayangnya, aku terus gamang untuk memutuskan hendak dibawa kemana hubungan ini. Cintaku membuncah. Tetapi dorongan dari dalam untuk tetap berpijak pada kenyataan kuat pula menghimpit sebelah hatiku. Aku menyembunyikan semua itu, terkubur dalam senyumanmu yang siang itu aku lihat saat kamu hendak pergi – entah kemana.
Meski hari masih terlalu awal untuk orang-orang bangun dari tidurnya, suasana ketika aku sedang tidur sudah ramai. Aku yang sedari tadi berkalang mimpi terpaksa harus menarik kelopak mataku, membiarkan diriku melihat terang lampu neon kamarku. Ah masih ada waktu. Suasana puasa bagiku seperti saat itu kurang begitu menyenangkan. Aku harus antre bermenit-menit hanya untuk mendapatkan sebungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Aku membayang suasana yang sama jika terjadi di rumahku. Setelah bangun, aku santai saja ngeloyor ke meja makan, yang ibuku sudah sediakan sejak seperempat jam yang lalu. Yang aku lakukan hanyalah menarik keluar kursi, duduk, mengambil piring, dan menyendok makananku. Kenyang, aku punya dua pilihan: tidur sebentar yang berarti bisa kesiangan shalat shubuh atau shalat shubuh dulu. Intinya aku selalu tidur lagi selepas sahur. “Aku udah bangun dari tadi kok” begitu balasanmu ketika aku, yang berusaha mengesankan sebagai seorang yang bertanggung jawab, menyapamu. Aku tidak lupa. Aku mengerti siapa sebenarnya dirimu, dalam satu hal ini saja, bahwa kamu adalah nyonya rumahmu. Jadi, jika kita bicarakan tentang masakan, makanan, dan bagaimana menyiapkannya, maka kamu-lah nyonya rumah. Itu adalah, aku pikir, rahasia pertama yang kamu dengan senang hati berkenan untuk membeberkannya. Setidaknya, kamu mungkin menganggap itu bukanlah sebuah rahasia yang jika diceritakan pada siapa saja akan menjadi aib. Alih-alih, kamu menganggap itu tidak lebih daripada sebuah rutinitas belaka yang perlu diberikan sebagai jawaban jika ada yang menanyakannya. ““mau dong aku icip-icip juga” setengah menggodamu aku berusaha memikat perhatianmu, menyiratkan bahwa aku ingin pula mengagumi kelebihanmu memasak. “sayang banget. Udah abis tu” kamu santai membalasku.
Bagaimana bisa aku – waktu itu – menolak seorang wanita dengan keadaan hampir sempurna seperti kamu? Tiap pria standar pasti punya harapan tentang wanita yang kelak mereka peristri: cantik, berambut panjang, bisa menjaga diri, dan tahu kewajiban dan apa yang harus ia lakukan. Ah, mungkin Nabi telah menyihirku dengan kata-kata magisnya: wanita yang baik itu adalah menyenangkan hatimu saat melihatnya, jika disuruh ia patuh, jika kamu bepergian ia menjaga harta dan kehormatanmu. Entahlah. Aku hanya merasa secara bawah sadar kamu-lah untukku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan seperti itu bisa muncul. Apakah itu karena aku hanya baru mengenal sedikit tentang kamu, jadi hanya terpesona pada sekilas saja tentang dirimu, ataukah karena keadaan diriku yang begitu lama ‘terisolasi’, jauh perhatian dan kelembutan, sehingga sekali saja ada perhatian dan curahan kasih sayang dan aku merasa bisa pula membalasnya, aku menganggapnya segala-galanya. Dan semua pertanyaan itu terus mendengung dalam pikiranku, terngiang-ngiang sepanjang waktu di telingaku sebagai usahaku untuk menyadarkanku.
Separuh puasa telah kita lewati dan aku merasa kali itu sangat istimewa. Bahwa aku sangat menikmati bangun awal hariku, menghadirkan semangat dalam diriku bahwa ada hal yang jauh lebih penting ketimbang sahur. Bagiku tidak masalah tentu bersahur hanya dengan kurma dan seteguk air. Tetapi, kamu membuatku kuat menghadapi puasa seharian tanpa perutku terganjal makanan beragi itu.
Ketika puasa telah mencapai ¾ bagiannya, aku terdorong untuk memutuskan inilah saatnya. Entah kekuatan mana yang melakukannya. Intinya jika tidak kamu lakukan sekarang, kamu mungkin akan menyesal sepanjang hidupmu. Lakukanlah sekarang dan akan kamu dapati bahwa setidaknya kamu telah berusaha. Bahwa kamu telah mengetahui hasilnya. Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu belum berusaha? Semua dorongan itu membuat kepalaku sakit dan tanpa sadar aku memencet-mencet tombol ponsel, terlihat seperti sedang membuat pesan. Aku memang membuat sebuah “lamaran” untuk dia. Dan dalam hitungan detik saja, “kata-kata” dariku telah nangkring di ponselmu. Satu menit berlalu. 5 menit menjelang. 10 menit sudah terlewati. 20 menit. 30 menit. Satu jam. Masih tidak ada balasan darimu. Aku tidak sabar. Aku tidak sabar menunggu balasanmu, menanti reaksi, mengharap jawabanmu.
Aku harus menunggu, mungkin dalam waktu yang aku rasa paling lama, sebelum aku bisa mendapatkan balasanmu. Satu hal bahwa kamu telah membalas yang berarti memuaskan penantian adalah berbeda dengan kenyataan bahwa balasanmu tidak seperti yang duga. Jika aku berharap balasanmu seperti keinginanku, itu sangat subyektif sekali. Kamu hanya menjawab datar, hampir-hampir mengesankan kamu tidak menanggapi permintaanku. Aku berpikir kamu sedang berusaha menghindar, namun kewalahan untuk menemukan kata yang tepat untuk menolaknya. Lelah karena seharian dibiarkan menunggu, aku enggan untuk meneruskan kembali perpesanan itu hanya untuk menyelidiki dan memperoleh ketegasanmu. Alih-alih, aku memilih … TIDUR. Meski aku tahu aku melakukannya diiringi perasaan tak menentu, herannya, aku masih bisa memperoleh mimpi di siang bolong saat itu.
Hanyalah sebentuk eufemisme bahwa kamu membalas tidak seperti yang aku duga. Yang ada sebenarnya, itu hanyalah caraku memperhalus betapa kamu sebenarnya tidak pernah menanggapi perasaanku. Aku masih saja belum bisa membedakan antara perhatian seharusnya dengan perasaan mendalam yang namanya cinta. Aku menangis. Tetapi tanpa air mata. Aku tahu itu tidak pantas ditangisi. Entah karena aku sudah mengetahui bahwa kamu sebenarnya tidak pernah menanggapi perasaanku atau aku hanya menahan diri. Menjaga gengsi dan egoismeku. Salah satu bisa benar. Keduanya bisa saja salah.
Aku menggulung puasa bulan itu dan menjelang hari kemenangan dengan kegalauan yang menyelimuti sekujur perasaanku. Semuanya berakhir anti-klimaks dan … TRAGIS. Jadi selama ini semuanya sia-sia belaka? Aku mencoba menghalau perasaan inferior itu, menghibur diri bahwa ini bukanlah akhir segalanya. Namun, semakin kuat aku berusaha semakin deras rasa penyesalan itu menyesakku meratapi keputusanmu yang “kejam” itu.
selipat 5
Semuanya menjadi satu. Bahwa aku akan terputus kontak darimu. “katanya di sana ada sinyal kok. Jadi, tenang saja kita masih bisa SMS-an” kamu menghiburku saat aku meragukan bahwa kita masih bisa terus bersama. Aku lega. Sekaligus khawatir. Khawatir bahwa aku tidak bisa mengawasimu. Tetapi, bukankah, meski aku begitu ingin, aku tidak bisa melakukannya di hari-hari yang lain untuk kamu? Ah posesif sekali diriku. Juga egois. Cerita yang lain membayang tentang kegiatan di desa itu. “kira-kira kamu bakal dijodohin sama siapa ya?” aku menggodanya, yang sebenarnya menyiratkan bahwa aku tidak ingin menjalin hubungan dengan (pria) lain. “gak kepikiran tuh. Berangkat aja belum” ia menjawab sekenanya, tetapi tidak cukup kuat untuk mengalahkan kegalauan hatiku. Seandainya kamu tepat di depanku melihat wajahku saat mendengarmu mengatakan itu, kamu mungkin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatiku. Aku lantas hanya tersenyum. “aku berangkat dulu ya” ya ampun kamu memberiku harapan lagi, mengesankan bahwa aku-lah memang pelindungmu, penjagamu, di setiap kehidupanmu. Padahal aku seharusnya sadar itu hanyalah sebentuk kesopanan yang memang perlu dilakukan sebagai bentuk ketinggian dan keluhuran budi pekerti.
Sebulan kamu di KKN seharusnya membuat aku punya alasan untuk tidak memikirkanmu lagi. Kamu pasti sibuk berkegiatan, tidak ada sinyal, dan terutama bahwa, ketika sebulan selalu bersama dalam suka dan duka maka pasti akan timbul empati di antara sesama peserta, kamu pasti terjebak cinta lokasi. Aku bisa apa? Aku tidak bermaksud menudingmu sebagai penyebab kegagalanku tidak bisa melupakanmu. Itu sepenuhnya kesalahanku. Setidaknya, aku sekarang belajar bahwa mencintai bukanlah dengan sepenuhnya memberikan cinta kita, seolah-olah kamu adalah orang terakhir yang Tuhan telah takdirkan untukku. Alih-alih, kamu mungkin merasa tidak menerima cintaku. Mungkin juga tidak menyukainya, sebenarnya.
“Boleh gak aku main?” aku bertanya pelan pada suatu masa setelah aku terlonjak kegirangan mendapati bahwa aku masih bisa mengirim pesan pendek karena desa tempat kamu KKN telah terjangkau jaringan. Kamu hanya tersenyum. Atau kamu hanya tersenyum. Itu dugaanku. “buat apa?” kamu bertanya, mengesankan bahwa kamu sebenarnya tidak menginginkan aku mengunjungimu. “lagipula aku tidak punya jadwal kosong. Setiap hari selalu ada kegiatan. Aku juga bakal gak enak ma mereka kalo mereka sedang sibuk aku malah nyantai” itu adalah penolakan telak darimu. Dan aku tidak bisa mengajukan dalih apapun lagi.
Aku berharap sesungguhnya bahwa saat kamu KKN adalah kesempatanku untuk lebih dekat lagi. Denganmu tentu saja. Kapan lagi ada kesempatan saat kamu begitu jauh dari rumahmu yang memungkinkanku sekaligus mengenal kamu lebih akrab lagi? Tentu saja aku bisa membedakan mana yang seharusnya aku lakukan dan mana yang tidak boleh aku dekati. Aku hanya berusaha memuaskan perasaanku tentang siapa kamu sebenarnya.
Sepanjang bulan kamu KKN, itu adalah saat aku mewujud menjadi Kris Dayanti. Setidaknya aku mengamalkan lagunya untuk terus menghitung hari. Setiap perubahan hari terekam jelas dalam ingatanku, menandakan bahwa aku berusaha mengingat-ingat pergantian waktu. Aku selalu mengandaikan telah tiba satu minggu lebih cepat daripada kenyataan ini bahwa itu berarti kamu akan lebih cepat pula aku bertemu. Setiap malam, kala memandang langit-langit, aku hanya bisa berusaha membayangkan apakah yang sedang kamu lakukan di sana. Terkadang rasa itu menyergapku yang aku kesulitan untuk membuangnya sekaligus sesekali membuatku ragu apakah aku pantas denganmu. Aku tepis jauh-jauh, menggantikannya dengan sesuatu yang lebih utopis, narsis, bahwa kamu memang untukku.
selipat 4
Ada saat aku merasa inilah waktunya aku mengutarakannya kepadamu. Perkecamukan dalam pikiranku, konflik batin antara mempertahankan aturan atau menuruti perasaanku terus menderaku tiada henti, yang akhirnya bermuara pada keputusanku mengutarakannya kepadamu.
Tidak mudah melakukan itu semua. Tidak mudah mengambil keputusan saat “perang” masih berkecamuk menghiasi pikiranku tiap hari. Pergumulan yang aku yakin pada sebagian orang membuat mereka menjadi gila. Aku pun teringat Kisah Layla Majnun.
Aku semakin “merajalela”. Semakin sering kamu balas pesan singkatku, semakin berani aku mengucapkan “sayang” kepadamu. Benar-benar seperti itu! Dan kamu tidak marah atau senang. Datar saja. Di satu sisi aku tetap penasaran. Di sisi lain aku menghibur diriku – subyektif sekali – bahwa kamu sebenarnya menyenanginya. Hanya tidak mau mengungkapkannya. Pun, aku semakin sering melontarkan kata-kata yang – menurutku – lebih pantas dikirimkan dan dibaca oleh mereka yang sedang kasmaran. Tetapi aku pikir kita – kamu dan aku – “nggantung”. Tidak benar-benar meresmikan hubungan ini, tetapi menyiratkan bahwa terbuka jalan menuju kesana. Aku merasa kamu memberiku harapan. Ah aku tidak merasa memberimu harapan kok. Dan kamu benar. Aku yang salah – sekali lagi – menanggapi setiap katamu.
Sejak saat itu, percayalah, aku bergulat dengan diriku sendiri. Sebuah pergumulan hanya untuk memastikan sikapmu kepadaku. Diriku meyakinkanku bahwa kamu sebenarnya menyukaiku, mungkin hanya karena terhalang aturan dan tradisi kamu enggan memulainnya duluan. Coba lihat setiap pesan yang balas untukmu. Perhatikan setiap kata-kata yang ia ucapkan, meski tak bersuara. Adakah kebencian di sana? Adakah kesinisan? Adakah rasa tidak suka? Tidak. Tidak ada sama. Sekali. Yang ada bahwa ia sebenarnya menyukaimu pula. Ia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasakan. Itu semua selalu berdengung dalam pikiranku, membuatku kepalaku sakit memikirkannya. Aku, sebaliknya, merasa hubungan ini harus dibawa sewajarnya. Tanpa ada kecenderungan apa-apa. Minus niat apapun, persis seperti ketika pertama kali aku kirimkan pesan singkat kepadamu. Mirip hubungan antara penjual dan pembeli. Dan ketika satu pembeli telah berlalu dari hadapannya, sang penjual harus curahkan perhatiannya pada pembeli lainnya.
Aku berusaha realistis saja. Aku mengenalmu bukan ketika kita masih berupa anak kecil, yang bertelanjang kaki berlarian berkejaran. Semua kegiatan yang dilakukan dengan tulus. Tanpa ada semangat apapun. Dorongan apapun. Atau hasrat apapun. Aku mengenalmu ketika semua senyawa kimia dalam tubuhmu telah matang untuk dikeluarkan ketika tiba pada saatnya. Ketika kamu telah sempurna sebagai wanita. Ketika semua penampakan dan penampilanmu tidak sekedar menghadirkan perasaan kosong dalam diriku, melainkan sebentuk perasaan aneh diikuti dengan keinginan dari seorang lelaki dewasa yang perlu ditanggapi oleh seorang wanita dewasa pula.
Jadi, aku pikir ada seseorang yang mungkin pernah mengisi separuh hatimu yang bersamanya kamu berusaha merajut masa depan dan impian serta harapan. Lagipula, aku pikir sangat tidak mungkin kalau kamu sama sekali tidak punya pesona bagi lawan jenismu. Meski aku tahu keadaanmu seperti apa, aku pikir kamu juga adalah wanita normal yang senang berhias, menuruti perasaan dan kata hatimu, dan yang pasti ‘membolehkan’ jantungmu berdesir hanya pada saat-saat tertentu saja. Tak ada satu pun kekuatan yang, aku yakin, bisa menekanmu dari melakukan itu semua. Kelak aku membuktikan diriku benar atas aku, namun kemudian itu malah menjerumuskanku semakin dalam yang aku merasa kesulitan untuk lolos darinya.
Kamu membuatku menangis, sesuatu yang haram dilakukan oleh para lelaki, mungkin karena egoisme dan gengsi. Kamu tidak melihatnya. Tetapi hatiku bercucuran menjatuhkan semua harapan yang selalu bangun saat memikirkanmu.
“sudah siap semuanya?” aku bertanya singkat, kali ini masih sama seperti dulu bahwa aku memuati kata-kataku itu dengan cinta. “tinggal beberapa barang lagi, lalu semuanya beres dan aku berangkat”. Pagi hari yang dingin itu tidak sama seperti pagi hari ketika pertama kalinya aku mendapatkan balasanmu. Engkau akan pergi jauh. Tidak untuk selamanya. Hanya dalam beberapa saat. Tetapi itu sudah cukup membuatku kalut bahwa akan sangat lama aku akan kehilanganmu. Hari itu engkau akan KKN. Bayanganku tentang kegiatan pengabdian itu membuatku sangat khawatir.
-
Archives
- September 2008 (1)
- July 2008 (4)
- June 2008 (13)
- May 2008 (19)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


