Pertama adalah Dan Brown. Ia menghentak dunia melalui novel monumentalnya, Da Vinci Code yang katanya “Memukau Nalar dan Mengguncang Iman”. Terutama kalangan kristen meributkannya hingga Vatikan harus repot-repot menulis buku tandingan untuk membantah semua isi novel tersebut. anehnya, Dan Brwon seperti membuka jalan bagi karya-karya sejenis untuk bermunculan, baik yang sekedar memanfaatkan ketenaran kata “code” maupun yang benar-benar serius: “menguliti” ajaran kristen yang sebenarnya.
Yang terbaru adalah Messiah Conspiracy. Buku yang aslinya berjudul The Last Templar ditulis oleh Raymond Khourry. Bagi mereka yang terlanjur gandrung pada Da Vinci Code, mungkin akan timbul sedikit “cibiran” pada karya ini dan penulisnya hanya untuk menunjukkan kesamaan benang merah di antara keduanya: berusaha mengurai kehidupan Yesus terutama ajaran-ajarannya dan mempertanyakan ajaran kristen yang sudah mapan puluhan abad hingga saat ini.
Tetapi kenapa mereka melakukan itu – melalui novel-novel mereka? Tidakkah mereka takut kepada Vatikan – yang konon merupakan wakil Tuhan di dunia? Terlepas dari keabsahan kebenaran yang mereka uraikan dalam novel mereka, keduanya berusaha untuk membebaskan diri mereka – dan miliaran orang lainnya di luar sana – dari ajaran dogmatis dan ketaatan semu. Itu adalah watak dasar manusia yang tidak ingin dikekang oleh kekuatan apapun – sebuah keyakinan yang sebenarnya condong kepada kesombongan. Watak berikutnya adalah, apa lagi kalau bukan, rasa ingin tahu. Kita tidak sezaman dengan para nabi dan rasul itu. Tentu saja. Tetapi, seiring dengan kemajuan teknologi, apa sih yang tidak mungkin? Mungkin itu yang ada di benak mereka. Berbekal berbagai bacaan, ensiklopedia yang jika diurutkan ke atas bisa menjadi menara babel – bukti lain kepongahan manusia – mereka berusaha merekonstruksi masa silam dalam suasana modern.
Apapun usaha yang mereka tempuh, mereka agaknya menemui jalan buntu. Kenapa? Coba baca bab-bab terakhir Messiah Conspiracy, terutama saat Tess berjalan-jalan di pulau setelah mereka diselamatkan nelayan setempat. Ia melihat orang-orang tersebut justru berbahagia karena ajaran yang, menurut mereka, palsu. Di atas itu semua, ada Kekuatan Maha Besar yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun dan apapun. Namun – seperti yang Ia ramalkan – selalu ada saja dari sebagian manusia yang menaruh keraguan pada-Nya.









