Troy
dua malam yang lalu saya akhirnya memperoleh kesempatan untuk menonton film Troy. sebagai anak rumahan, dan bukan penikmat film (movie-goer), sangat sedikit kesempatan saya dapatkan untuk melihat film-film terbaru yang sedang diputar di bioskop. Film yang dibintangi antara lain oleh Brad Pitt ini, menurut dugaan saya, disutradarai oleh Ridley Scott (ada yang ingin koreksi?). alasan saya, film tersebut didukung oleh banyak pemain, ber-genre sejarah tempo doeloe, dan, yang lebih penting lagi, ada musik pengiring yang menyayat hati ketika salah satu tokoh tertimpa kedukaan.
Itu semua karena Orlando Bloom. Aktor yang berperan sebagai Paris dalam film yang sama itu diarahkan juga oleh Scott dalam film Kingdom of Heaven yang dirilis pada 2005 yang pemeran utamanya – siapa lagi kalau bukan – adalah Orlando Bloom. Sederhana ya silogisme seperti itu : – )
Alkisah, Troy merupakan salah satu kekuatan terhebat di dunia kala itu, berdampingan dengan Sparta dan Yunani bersamaan. Gencatan senjata sedang berlangsung dan masing-masing pemimpin begitu menikmati perdamaian itu.
Masalah mulai muncul ketika putra mahota urutan kedua Troy, Paris, tidak kuasa menolak perasaannya terhadap Helen, istri Melaneus, salah satu pemimpin Spartan, berdampingan dengan Agamemnon yang juga kakaknya.
Dan ketika cinta telah membutakan Paris dan Helen, Hector, sang putra mahkota Troy, mendapati – dalam perjalanan kembali ke Troy – keduanya dalam kapal mereka. Bukan karena Helen belum membeli tiket kapal Troy (ah gak nyambung banget!), tetapi Helen masih menjadi istri sah Melaneus yang sekarang dilarikan oleh Paris. Mengembalikan Helen kepada suaminya entah oleh Paris atau Hector atau keduanya adalah bunuh diri sementara kukuh untuk tetap melarikan Helen berarti merusak gencatan senjata. Inilah buah simalakama.
Sembari diliputi kemarahan, para pemimpin Sparta lantas menghubungi (ceeilaa, gayanya kayak waktu itu udah ada hape aja) Achilles, seorang prajurit Ithaca – salah satu koloni Sparta – yang dibesarkan dan dilatih oleh perang demi perang. Ia tak terkalahkan. Rujukan dan idaman para prajurit untuk menjadi (sayangnya, saya terlewatkan tentang adegan mengapa Achilles setuju bergabung dengan Sparta untuk menyerang Troy, padahal ibunya secara tersirat berusaha mencegahnya)
Benang merah dari film Troy adalah wanita. Wanita yang nampak lelah ternyata mampu menaklukkan para pria. Lihat Helen. Dan Achilles yang perkasa pun akhirnya harus takluk pada Beseis, sepupu bersama dari Paris dan Hector. Beseis yang awalnya diculik saat kuil Apollo diserang lalu menjadi tawanan pribadi Achilles akhirnya malah dijadikan tamu oleh Achilles (mengerti sajalah kenapa sebuah status bisa berubah cepat).
Lalu dimana kedukaan para tokoh (karena ada kidung menyayat hati di beberapa adegan film itu)? Pertama, saat Achilles kehilangan sepupu tercintanya, yang sebelumnya terus merengek ingin disertakan dalam perang besar. Inilah yang selanjutnya menunjukkan betapa dendam hanyalah sebuah lingkaran yang tak berakhir. Achilles terbakar oleh kemarahannya sendiri, mencabut pedang dan menyiapkan keretanya sendirian, lalu mencari pembunuh Sepacleus – Hector. Dan, ketangkasan Achilles dalam bertarung terbukti tepat dihadapan Raja Troy – Priam, ayah Hector dan Paris – yang menangisi jasad putranya saat diseret oleh Achilles dengan kereta kudanya kembali ke kemahnya.
Troy juga berhasil menjelaskan pada saya tentang legenda kuda Troya. Ternyata bukanlah kecerdikan orang Troya menggunakan strategi ini. Justru orang Sparta yang berhasil menyusup ke dalam kota Troy yang dilindungi oleh benteng-benteng yang tinggi saat mereka membuat patung kuda raksasa dari kayu sehingga dianggap sebagai persembahan kepada Poseidon, Dewa Laut dan ditempatkan tepat di tengah kota Troy.
Troy diserang. Semua rumah dibakar. Para penjaga dibunuh saat sedang istirahat. Pilar-pilar dirubuhkan. Semua orang panik. Achilles datang hanya untuk satu nama: Beseis. Sekali lagi kita sebentar lagi akan menyaksikan betapa lemahnya para pria perkasa di hadapan wanita yang dicintainya. Achilles tertembus panah Paris – yang sepanjang cerita tidak lebih daripada seorang pengecut, bukan ksatria perang seperti kakaknya) tepat ketika ia begitu kegirangan bisa menemukan Beseis.
Film-film semacam Troy, Kingdom of Heaven, dan mungkin juga Alexander – yang terakhir saya belum menontonnya – membuat saya pikirkan hal lainnya: keberanian. Sesuatu yang niscaya cukup sulit ditemui dalam dunia serba glamor ini. .
. .