Archive for June 9, 2008

EPILOG

Posted in Tolong Baca Hatiku, general on June 9, 2008 by thestolenkid

Kini semunya telah normal seperti seharusnya, seperti yang kamu mau. Tetapi tidak seperti yang aku mau. Bayangkan jika kamu mengambil mainan dari seorang anak kecil yang biasa ia memainkannya. aku telah kehilangan “kesayanganku”. Kehilangan yang mungkin, hingga saat ini, tidak bisa ditebus dalam cara apapun, dengan cara apapun. Sebuah kehilangan yang membuatku mengutuk kenyataan ini, berharap aku bisa dikembalikan ke masa lalu untuk memperbaiki segalanya.

Hadapi ini. Bukan kenyataan yang kamu pijak jika kamu terus menginginkan masa lalu. Aku berusaha bangkit. Sekuatnya. Mengobati “kecanduan” ini.

Satu hal yang bisa “menghiburku” dan mengobati “sakaw” ini adalah kenyataan yang aku dengung-dengungkan sendiri bahwa kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku. Terkadang ini tidak mudah karena aku telanjur yakin aku-lah yang terbaik untukmu. Dunia ini tidak hanya kamu para lelaki yang mengisinya. Jadi, aku memilih cara yang wajar. Alamiah. Realistis. Mungkin bagi orang lain, cenderung fatalis. Pasrah begitu saja. Bahwa jika berjodoh, sesulit apapun ia terlihat untuk bersatu, maka pasti akan berjodoh. Dan kalau tidak berjodoh, sekeras apapun usaha untuk mempersatukan, pasti tidak akan bisa.

Aku menghormatimu sebagai wanita yang pernah singgah di hatiku, menghadirkan sensasi aneh di jantungku, membuatku mampu seolah-olah menaklukkan dunia. Tetapi kalau sekarang aku terlihat “berantakan” yang sepertinya gara-gara kamu, itu sebenarnya bukanlah salahmu. Banyak hal lainnya yang layak diajukan sebagai sebab kenapa aku tidak pantas – aku berharap belum – bersanding denganmu, meski terkadang aku membenci kenyataan bahwa ia akan bermuara pada diriku.

Tetapi, kamu mungkin juga lebih baik jika tanpa aku. Jika lebih dalam aku melihat ke diriku, aku sesekali meragukan kamu bisa menerima diriku apa adanya. Menurutku, banyak hal yang belum kamu ketahui tentang aku yang jika kamu mengetahuinya kamu mungkin menyesal telah “menyatu” denganku. Sebelum itu terlambat, sebelum itu semua terjadi, dengan tujuan menghibur diriku, sudah tepat keputusanmu sekarang menarik diri.

07 Juni 2008

selipat 7

Posted in 1 on June 9, 2008 by thestolenkid

Anehnya, aku yang separuh hatiku telah dicampakkan masih bisa menyisihkan separuh hatiku yang lainnya tetap hanya untuk kamu. Selepas libur panjang, semuanya kembali seperti biasa. Kamu berlaku biasa. Aku masih sama dalam memperlakukanmu seperti sejak pertama ketemu. Seolah tidak terjadi peristiwa besar yang seharusnya menjadikan para pelakunya diliputi kebencian dan penyesalan kesumat bersamaan. Untungnya, tak seorang pun yang mengetahui “affair”-ku itu. Dengan pintarnya, aku bersikap seolah-olah aku mengenalmu hanya sebatas nama belaka. Tidak lebih. Dan mereka percaya. Di belakang kalian aku beraksi.

Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi aku benamkan di antara lututku kala sedang duduk. Semua kenangan bersama kamu terasa sangat menyesakkan ketika kenyataan ini harus ditakdirkan terjadi. Aku seharusnya tidak bisa berlama-lama di masa lalu dan harus segera menjemput masa depan. Sayangnya, mereka terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Dan aku masih berusaha mengembalikan semua itu.

Awalnya, aku senang ketika kamu putuskan tidak memperpanjang “salah paham” antara kita. Aku pikir masa silam sedang terulang lagi. Aku sudah begitu senang membayangkan semua kenangan yang pasti akan kita ulangi lagi dan mungkin lebih baik lagi.

Satu pesan aku sampaikan untukmu sekedar menyapa. Hanya diam pada malam itu yang mengusik penantianku. Aku coba sekali lagi, kali ini dengan alasan yang semoga memantik kesediaanmu membalasnya. Aku kembali mendapatkan kosong. Engkau terlihat sepertinya masih bergeming. Mungkin alatnya dan dirinya sedang terpisah jauh. Aku menghibur diri, membayangkan bahwa di tempat barumu ini kamu lebih leluasa mengatur hidup dan keinginanmu sendiri. Hingga aku kelelahan menantimu dan terbangun saat hawa dingin awal hari membangunkanku yang tak berselimut, alatku tetap tak menampilkan satu pun pesan singkat darimu.

Aku sedih. Keputusanmu tidak mengakhiri dahagaku akan semua kenangan yang dulu pernah kita buat bersama. Atau dia mungkin sakit hati? Berulang kali aku berusaha menghilangkan dugaan polos seperti itu, tetapi semakin kuat aku berusaha, semakin dalam ia mencengkeram seluruh jiwa dan perasaanku, mengesankan bahwa benar adanya demikian. Tak bisa dipungkiri, bahwa kekeliruan dan kebodohanku telah membuatku kehilangan salah satu momen terbaik dalam hidupku, yang mungkin tidak akan terulang lagi. A chance in a lifetime. Rupanya, aku pikir, keputusanmu mengakhiri “perseturuan” kita aku salah menafsirkannya. Kamu. Aku. Kita memang berbeda.

selipat 6

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

Kepulanganmu menjadi dilematis bagiku. Di satu sisi aku senang bahwa semua yang dulu pernah kita lakukan bersama, meski sebatas pesan singkat, akan kembali menjadi sebuah rutinitas. Di sisi lain, sayangnya, aku terus gamang untuk memutuskan hendak dibawa kemana hubungan ini. Cintaku membuncah. Tetapi dorongan dari dalam untuk tetap berpijak pada kenyataan kuat pula menghimpit sebelah hatiku. Aku menyembunyikan semua itu, terkubur dalam senyumanmu yang siang itu aku lihat saat kamu hendak pergi – entah kemana.

Meski hari masih terlalu awal untuk orang-orang bangun dari tidurnya, suasana ketika aku sedang tidur sudah ramai. Aku yang sedari tadi berkalang mimpi terpaksa harus menarik kelopak mataku, membiarkan diriku melihat terang lampu neon kamarku. Ah masih ada waktu. Suasana puasa bagiku seperti saat itu kurang begitu menyenangkan. Aku harus antre bermenit-menit hanya untuk mendapatkan sebungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Aku membayang suasana yang sama jika terjadi di rumahku. Setelah bangun, aku santai saja ngeloyor ke meja makan, yang ibuku sudah sediakan sejak seperempat jam yang lalu. Yang aku lakukan hanyalah menarik keluar kursi, duduk, mengambil piring, dan menyendok makananku. Kenyang, aku punya dua pilihan: tidur sebentar yang berarti bisa kesiangan shalat shubuh atau shalat shubuh dulu. Intinya aku selalu tidur lagi selepas sahur. “Aku udah bangun dari tadi kok” begitu balasanmu ketika aku, yang berusaha mengesankan sebagai seorang yang bertanggung jawab, menyapamu. Aku tidak lupa. Aku mengerti siapa sebenarnya dirimu, dalam satu hal ini saja, bahwa kamu adalah nyonya rumahmu. Jadi, jika kita bicarakan tentang masakan, makanan, dan bagaimana menyiapkannya, maka kamu-lah nyonya rumah. Itu adalah, aku pikir, rahasia pertama yang kamu dengan senang hati berkenan untuk membeberkannya. Setidaknya, kamu mungkin menganggap itu bukanlah sebuah rahasia yang jika diceritakan pada siapa saja akan menjadi aib. Alih-alih, kamu menganggap itu tidak lebih daripada sebuah rutinitas belaka yang perlu diberikan sebagai jawaban jika ada yang menanyakannya. ““mau dong aku icip-icip juga” setengah menggodamu aku berusaha memikat perhatianmu, menyiratkan bahwa aku ingin pula mengagumi kelebihanmu memasak. “sayang banget. Udah abis tu” kamu santai membalasku.

Bagaimana bisa aku – waktu itu – menolak seorang wanita dengan keadaan hampir sempurna seperti kamu? Tiap pria standar pasti punya harapan tentang wanita yang kelak mereka peristri: cantik, berambut panjang, bisa menjaga diri, dan tahu kewajiban dan apa yang harus ia lakukan. Ah, mungkin Nabi telah menyihirku dengan kata-kata magisnya: wanita yang baik itu adalah menyenangkan hatimu saat melihatnya, jika disuruh ia patuh, jika kamu bepergian ia menjaga harta dan kehormatanmu. Entahlah. Aku hanya merasa secara bawah sadar kamu-lah untukku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan seperti itu bisa muncul. Apakah itu karena aku hanya baru mengenal sedikit tentang kamu, jadi hanya terpesona pada sekilas saja tentang dirimu, ataukah karena keadaan diriku yang begitu lama ‘terisolasi’, jauh perhatian dan kelembutan, sehingga sekali saja ada perhatian dan curahan kasih sayang dan aku merasa bisa pula membalasnya, aku menganggapnya segala-galanya. Dan semua pertanyaan itu terus mendengung dalam pikiranku, terngiang-ngiang sepanjang waktu di telingaku sebagai usahaku untuk menyadarkanku.

Separuh puasa telah kita lewati dan aku merasa kali itu sangat istimewa. Bahwa aku sangat menikmati bangun awal hariku, menghadirkan semangat dalam diriku bahwa ada hal yang jauh lebih penting ketimbang sahur. Bagiku tidak masalah tentu bersahur hanya dengan kurma dan seteguk air. Tetapi, kamu membuatku kuat menghadapi puasa seharian tanpa perutku terganjal makanan beragi itu.

Ketika puasa telah mencapai ¾ bagiannya, aku terdorong untuk memutuskan inilah saatnya. Entah kekuatan mana yang melakukannya. Intinya jika tidak kamu lakukan sekarang, kamu mungkin akan menyesal sepanjang hidupmu. Lakukanlah sekarang dan akan kamu dapati bahwa setidaknya kamu telah berusaha. Bahwa kamu telah mengetahui hasilnya. Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu belum berusaha? Semua dorongan itu membuat kepalaku sakit dan tanpa sadar aku memencet-mencet tombol ponsel, terlihat seperti sedang membuat pesan. Aku memang membuat sebuah “lamaran” untuk dia. Dan dalam hitungan detik saja, “kata-kata” dariku telah nangkring di ponselmu. Satu menit berlalu. 5 menit menjelang. 10 menit sudah terlewati. 20 menit. 30 menit. Satu jam. Masih tidak ada balasan darimu. Aku tidak sabar. Aku tidak sabar menunggu balasanmu, menanti reaksi, mengharap jawabanmu.

Aku harus menunggu, mungkin dalam waktu yang aku rasa paling lama, sebelum aku bisa mendapatkan balasanmu. Satu hal bahwa kamu telah membalas yang berarti memuaskan penantian adalah berbeda dengan kenyataan bahwa balasanmu tidak seperti yang duga. Jika aku berharap balasanmu seperti keinginanku, itu sangat subyektif sekali. Kamu hanya menjawab datar, hampir-hampir mengesankan kamu tidak menanggapi permintaanku. Aku berpikir kamu sedang berusaha menghindar, namun kewalahan untuk menemukan kata yang tepat untuk menolaknya. Lelah karena seharian dibiarkan menunggu, aku enggan untuk meneruskan kembali perpesanan itu hanya untuk menyelidiki dan memperoleh ketegasanmu. Alih-alih, aku memilih … TIDUR. Meski aku tahu aku melakukannya diiringi perasaan tak menentu, herannya, aku masih bisa memperoleh mimpi di siang bolong saat itu.    

Hanyalah sebentuk eufemisme bahwa kamu membalas tidak seperti yang aku duga. Yang ada sebenarnya, itu hanyalah caraku memperhalus betapa kamu sebenarnya tidak pernah menanggapi perasaanku. Aku masih saja belum bisa membedakan antara perhatian seharusnya dengan perasaan mendalam yang namanya cinta. Aku menangis. Tetapi tanpa air mata. Aku tahu itu tidak pantas ditangisi. Entah karena aku sudah mengetahui bahwa kamu sebenarnya tidak pernah menanggapi perasaanku atau aku hanya menahan diri. Menjaga gengsi dan egoismeku. Salah satu bisa benar. Keduanya bisa saja salah.

Aku menggulung puasa bulan itu dan menjelang hari kemenangan dengan kegalauan yang menyelimuti sekujur perasaanku. Semuanya berakhir anti-klimaks dan … TRAGIS. Jadi selama ini semuanya sia-sia belaka? Aku mencoba menghalau perasaan inferior itu, menghibur diri bahwa ini bukanlah akhir segalanya. Namun, semakin kuat aku berusaha semakin deras rasa penyesalan itu menyesakku meratapi keputusanmu yang “kejam” itu.

selipat 5

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

Semuanya menjadi satu. Bahwa aku akan terputus kontak darimu. “katanya di sana ada sinyal kok. Jadi, tenang saja kita masih bisa SMS-an” kamu menghiburku saat aku meragukan bahwa kita masih bisa terus bersama. Aku lega. Sekaligus khawatir. Khawatir bahwa aku tidak bisa mengawasimu. Tetapi, bukankah, meski aku begitu ingin, aku tidak bisa melakukannya di hari-hari yang lain untuk kamu? Ah posesif sekali diriku. Juga egois. Cerita yang lain membayang tentang kegiatan di desa itu. “kira-kira kamu bakal dijodohin sama siapa ya?” aku menggodanya, yang sebenarnya menyiratkan bahwa aku tidak ingin menjalin hubungan dengan (pria) lain. “gak kepikiran tuh. Berangkat aja belum” ia menjawab sekenanya, tetapi tidak cukup kuat untuk mengalahkan kegalauan hatiku. Seandainya kamu tepat di depanku melihat wajahku saat mendengarmu mengatakan itu, kamu mungkin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatiku. Aku lantas hanya tersenyum. “aku berangkat dulu ya” ya ampun kamu memberiku harapan lagi, mengesankan bahwa aku-lah memang pelindungmu, penjagamu, di setiap kehidupanmu. Padahal aku seharusnya sadar itu hanyalah sebentuk kesopanan yang memang perlu dilakukan sebagai bentuk ketinggian dan keluhuran budi pekerti.  

Sebulan kamu di KKN seharusnya membuat aku punya alasan untuk tidak memikirkanmu lagi. Kamu pasti sibuk berkegiatan, tidak ada sinyal, dan terutama bahwa, ketika sebulan selalu bersama dalam suka dan duka maka pasti akan timbul empati di antara sesama peserta, kamu pasti terjebak cinta lokasi. Aku bisa apa? Aku tidak bermaksud menudingmu sebagai penyebab kegagalanku tidak bisa melupakanmu. Itu sepenuhnya kesalahanku. Setidaknya, aku sekarang belajar bahwa mencintai bukanlah dengan sepenuhnya memberikan cinta kita, seolah-olah kamu adalah orang terakhir yang Tuhan telah takdirkan untukku. Alih-alih, kamu mungkin merasa tidak menerima cintaku. Mungkin juga tidak menyukainya, sebenarnya.

“Boleh gak aku main?” aku bertanya pelan pada suatu masa setelah aku terlonjak kegirangan mendapati bahwa aku masih bisa mengirim pesan pendek karena desa tempat kamu KKN telah terjangkau jaringan. Kamu hanya tersenyum. Atau kamu hanya tersenyum. Itu dugaanku. “buat apa?” kamu bertanya, mengesankan bahwa kamu sebenarnya tidak menginginkan aku mengunjungimu. “lagipula aku tidak punya jadwal kosong. Setiap hari selalu ada kegiatan. Aku juga bakal gak enak ma mereka kalo mereka sedang sibuk aku malah nyantai” itu adalah penolakan telak darimu. Dan aku tidak bisa mengajukan dalih apapun lagi.

Aku berharap sesungguhnya bahwa saat kamu KKN adalah kesempatanku untuk lebih dekat lagi. Denganmu tentu saja. Kapan lagi ada kesempatan saat kamu begitu jauh dari rumahmu yang memungkinkanku sekaligus mengenal kamu lebih akrab lagi? Tentu saja aku bisa membedakan mana yang seharusnya aku lakukan dan mana yang tidak boleh aku dekati. Aku hanya berusaha memuaskan perasaanku tentang siapa kamu sebenarnya.

Sepanjang bulan kamu KKN, itu adalah saat aku mewujud menjadi Kris Dayanti. Setidaknya aku mengamalkan lagunya untuk terus menghitung hari. Setiap perubahan hari terekam jelas dalam ingatanku, menandakan bahwa aku berusaha mengingat-ingat pergantian waktu. Aku selalu mengandaikan telah tiba satu minggu lebih cepat daripada kenyataan ini bahwa itu berarti kamu akan lebih cepat pula aku bertemu. Setiap malam, kala memandang langit-langit, aku hanya bisa berusaha membayangkan apakah yang sedang kamu lakukan di sana. Terkadang rasa itu menyergapku yang aku kesulitan untuk membuangnya sekaligus sesekali membuatku ragu apakah aku pantas denganmu. Aku tepis jauh-jauh, menggantikannya dengan sesuatu yang lebih utopis, narsis, bahwa kamu memang untukku.

selipat 4

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

Ada saat aku merasa inilah waktunya aku mengutarakannya kepadamu. Perkecamukan dalam pikiranku, konflik batin antara mempertahankan aturan atau menuruti perasaanku terus menderaku tiada henti, yang akhirnya bermuara pada keputusanku mengutarakannya kepadamu.

Tidak mudah melakukan itu semua. Tidak mudah mengambil keputusan saat “perang” masih berkecamuk menghiasi pikiranku tiap hari. Pergumulan yang aku yakin pada sebagian orang membuat mereka menjadi gila. Aku pun teringat Kisah Layla Majnun.

Aku semakin “merajalela”. Semakin sering kamu balas pesan singkatku, semakin berani aku mengucapkan “sayang” kepadamu. Benar-benar seperti itu! Dan kamu tidak marah atau senang. Datar saja. Di satu sisi aku tetap penasaran. Di sisi lain aku menghibur diriku – subyektif sekali – bahwa kamu sebenarnya menyenanginya. Hanya tidak mau mengungkapkannya. Pun, aku semakin sering melontarkan kata-kata yang – menurutku – lebih pantas dikirimkan dan dibaca oleh mereka yang sedang kasmaran. Tetapi aku pikir kita – kamu dan aku – “nggantung”. Tidak benar-benar meresmikan hubungan ini, tetapi menyiratkan bahwa terbuka jalan menuju kesana. Aku merasa kamu memberiku harapan. Ah aku tidak merasa memberimu harapan kok. Dan kamu benar. Aku yang salah – sekali lagi – menanggapi setiap katamu.  

Sejak saat itu, percayalah, aku bergulat dengan diriku sendiri. Sebuah pergumulan hanya untuk memastikan sikapmu kepadaku. Diriku meyakinkanku bahwa kamu sebenarnya menyukaiku, mungkin hanya karena terhalang aturan dan tradisi kamu enggan memulainnya duluan. Coba lihat setiap pesan yang balas untukmu. Perhatikan setiap kata-kata yang ia ucapkan, meski tak bersuara. Adakah kebencian di sana? Adakah kesinisan? Adakah rasa tidak suka? Tidak. Tidak ada sama. Sekali. Yang ada bahwa ia sebenarnya menyukaimu pula. Ia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasakan. Itu semua selalu berdengung dalam pikiranku, membuatku kepalaku sakit memikirkannya. Aku, sebaliknya, merasa hubungan ini harus dibawa sewajarnya. Tanpa ada kecenderungan apa-apa. Minus niat apapun, persis seperti ketika pertama kali aku kirimkan pesan singkat kepadamu. Mirip hubungan antara penjual dan pembeli. Dan ketika satu pembeli telah berlalu dari hadapannya, sang penjual harus curahkan perhatiannya pada pembeli lainnya.

Aku berusaha realistis saja. Aku mengenalmu bukan ketika kita masih berupa anak kecil, yang bertelanjang kaki berlarian berkejaran. Semua kegiatan yang dilakukan dengan tulus. Tanpa ada semangat apapun. Dorongan apapun. Atau hasrat apapun. Aku mengenalmu ketika semua senyawa kimia dalam tubuhmu telah matang untuk dikeluarkan ketika tiba pada saatnya. Ketika kamu telah sempurna sebagai wanita. Ketika semua penampakan dan penampilanmu tidak sekedar menghadirkan perasaan kosong dalam diriku, melainkan sebentuk perasaan aneh diikuti dengan keinginan dari seorang lelaki dewasa yang perlu ditanggapi oleh seorang wanita dewasa pula.

Jadi, aku pikir ada seseorang yang mungkin pernah mengisi separuh hatimu yang bersamanya kamu berusaha merajut masa depan dan impian serta harapan. Lagipula, aku pikir sangat tidak mungkin kalau kamu sama sekali tidak punya pesona bagi lawan jenismu. Meski aku tahu keadaanmu seperti apa, aku pikir kamu juga adalah wanita normal yang senang berhias, menuruti perasaan dan kata hatimu, dan yang pasti ‘membolehkan’ jantungmu berdesir hanya pada saat-saat tertentu saja.  Tak ada satu pun kekuatan yang, aku yakin, bisa menekanmu dari melakukan itu semua. Kelak aku membuktikan diriku benar atas aku, namun kemudian itu malah menjerumuskanku semakin dalam yang aku merasa kesulitan untuk lolos darinya.

Kamu membuatku menangis, sesuatu yang haram dilakukan oleh para lelaki, mungkin karena egoisme dan gengsi. Kamu tidak melihatnya. Tetapi hatiku bercucuran menjatuhkan semua harapan yang selalu bangun saat memikirkanmu.  

“sudah siap semuanya?” aku bertanya singkat, kali ini masih sama seperti dulu bahwa aku memuati kata-kataku itu dengan cinta. “tinggal beberapa barang lagi, lalu semuanya beres dan aku berangkat”. Pagi hari yang dingin itu tidak sama seperti pagi hari ketika pertama kalinya aku mendapatkan balasanmu. Engkau akan pergi jauh. Tidak untuk selamanya. Hanya dalam beberapa saat. Tetapi itu sudah cukup membuatku kalut bahwa akan sangat lama aku akan kehilanganmu. Hari itu engkau akan KKN. Bayanganku tentang kegiatan pengabdian itu membuatku sangat khawatir.

selipat 3

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

Tiap kali aku menyapamu, sebanyak itu pula kamu membalasnya. Ada semacam kehilangan bahwa sebentar saja kamu “diam”, aku jadi uring-uringan, persis para wanita – dirimu – yang akan kedatangan “sang tamu”          

Malam merambat pekat ketika aku tiba di ujung jalan menuju tempatku – juga rumahmu. Samar-samar aku melihat sesosok yang aku berusaha memastikan bahwa aku mengenalnya. Ya aku kenal dia. Aku membatin. Ia berjalan dalam cara yang aku kenal, termasuk penampilannya yang membuat kembali berdesir – sebuah sensasi yang sudah biasa terjadi ketika aku berpapasan dengan dia yang aku perlakukan “lebih”. Itu kamu. Terburu-buru karena waktu semakin kencang melaju, aku meninggalkanmu begitu saja tanpa ada keyakinan bahwa kamu merasakan pula kehadiranku.

Aku senang membuatmu terkejut. “kok tau sih?” itu yang pertama kali kamu katakan saat aku bilang aku melihatmu. “iya aku memang baru pulang. Tadi ada ujian di kampus” itu yang selanjutnya kamu katakan padaku selepas aku ceritakan bahwa aku telah melihatmu di ujung jalan sana. Lalu separuh malam itu kita habiskan bersama hanya melalui udara dan gelombang elektromagnetik karena masih ada dinding besar di antara kita. “aku ngantuk. Mo tidur dulu. Udah dulu ya” begitu kamu pamit meninggalkanku. Dan malam itu aku meninggalkan seulas senyuman pada malam yang pekat dan dingin.

Rasanya ingin aku setiap hari di sisimu. Melihatmu. Mengawasimu. Membantumu. Melindungimu. Terkadang aku merasa itu semua berlebihan, posesif, bahwa itu semua akan malah membuatmu tidak nyaman. Mungkin cintaku membutakanku. Bukan aku salah menilai dirimu. tetapi aku terlalu dalam mencintaimu. Aku terperosok dalam lubang kasih sayang yang aku buat sendiri, lantas tak mampu lolos darinya. Bukan karena aku pernah tersakiti oleh cinta lantas aku kemudian membuta dalam mencintai. Justru karena aku pernah terasing dalam hidup ini maka cinta melimpah dalam hatiku yang kelak suatu saat akan diberikan pada seseorang yang berhasil menggerakkan mengeluarkan semua persediaan cintaku itu. Mungkin kamu kemudian menyesal telah mengenalku setelah aku bercerita sampai di sini. Mungkin kamu merasa belum saatnya menerima limpahan cinta dariku, sesuatu yang membuatmu terikat selamanya. atau, kamu pikir aku terlalu berlebihan. Atau, mungkin kamu merasa aku bukan orang yang tepat untuk memberikan cinta padamu.

Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menyatakan bahwa manusia sebenarnya terasing satu sama lain. mereka lebih suka hidup dalam dunianya masing-masing. Ini bisa terlihat ketika manusia dalam kandungan berupa janin yang hidup sendiri dan benar-benar dimanja tanpa ada gangguan apapun. Keluar dari rahim melalui proses persalinan memaksa manusia menyadari bahwa mereka berada di dunia yang sama sekali asing. Mereka ingin tetap seperti di dalam rahim, tetapi jika itu mereka lakukan, mereka tidak bisa bertahan. Mulailah mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam.

Dalam abad modern ini – masih menurut The Art of Loving – manusia semakin terisolasi satu sama lain. kesibukan memaksa manusia terpisah dari manusia lain. mereka mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan manakala kesibukan tersebut telah membuat mereka merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga: kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan yang tidak cukup hanya dipenuhi secara materi saja. Lebih dari itu, ada perasaan tak-nampak yang memaksa manusia terus mencari untuk memuaskannya.

Keinginan manusia untuk menjalani keterikatan sebenarnya merupakan usaha mereka untuk memuaskan keinginan mereka akan kasih sayang. Akan cinta. Dalam cara apapun, mereka berusaha mengkaitkan diri mereka dengan manusia lain agar tidak kesepian. Tidak sendiri. Dan jika ia merasa telah menemukannya, ia dengan rela akan melakukan segalanya agar keterikatan itu tidak terlepas lagi.

selipat 2

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

“aku tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja”. Dahiku berkerut. Pikirku sedari tadi engkau telah melanglang jauh dari rumahmu. Bolehkah aku bertemu dirimu? aku menggigit bibirku. Sedapat mungkin aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tetapi, benar bahwa kenyataan selalu menyakitkan. Jika dirimu ada di rumah, kenapa aku tak kuasa mendekatimu?

Sudah berapa kali kita bertukar kata tentang siapa kita, bagaimana kita, dan seperti apa kita? Sudah seberapa sering kita saling menertawakan satu sama lain, menikmati kejelekan masing-masing dari kita? Atau, duduk terpekur mendengar keperihan diri kita masing-masing lalu merenung sejenak untuk berusaha berempati? Mereka yang berbeda kelamin akan langsung klik tatkala semua itu telah mereka lakukan. Kita masih baru. Aku tidak ingin terburu-buru. Dirimu pun tak menyiratkan apapun bagiku untuk memunculkan alasan bahwa persenyawaan kimia sedang berlangsung dalam tubuhku. Namun, terkadang cinta itu memburu terlalu cepat. Ia datang dengan tiba-tiba untuk memberi isyarat bahwa aku mungkin saja kehilanganmu jika aku tidak bersegera. Dan dua perasaan itu selalu berkecamuk dalam diriku. Yang mana yang menang? Aku pikir dirimu-lah yang menguasai keduanya. Engkau yang putuskan siapa pemenangnya. Dan aku tak kuasa berada dalam pengaruhmu meski aku masih mampu mengendalikan pikiranku.

Terkadang aku mencuri pandang, pada “saat sesekali” itu, berusaha memastikan siapa yang ada di belakangku. Terkadang dalam tegak berdiri darahku mengalir cepat, jantung berdesir tak beraturan dan empat kali posisi yang sama aku tidak bisa mengendalikan diri memikirkan lisanku. Aku hanya memikirkan hatiku. Siapa gerangan yang telah “mengguncangnya” kalau bukan dia – dirimu – yang di belakangku. Semoga Tuhan tidak menghukumku karena Dia pula yang meniupkan cinta manakala Hawa dipersiapkan dari sebilah rusuk Adam.

Aku tersadar. Lamat-lamat suara itu terdengar hingga sempurna aku dengarkan. Ketika aku melihat keluar, matahari baru saja menyemburkan kehangatannya. Aku lihat diriku. Rasanya sulit untuk tidak kembali pada masa silam jika kenyataan yang sedang aku hadapi ini tidak sesuai dengan harapanku. Tetapi, hanya dengan menerawang aku bisa kembali mengangkat semua kenangan itu bersamamu dalam tidur panjang mereka dalam alam bawah sadarku. Aku melihat jauh ke depan, berharap aku tidak pernah melakukan kekeliruan bodoh dalam hidupku. Biarkan ia dengan kehidupannya sekarang. Mungkin ia lebih baik tanpa kamu. Namun, aku bersikeras. Ini tidak adil. Bukankah aku telah berikan segalanya? Kenapa ia membalasnya seperti ini? Aku berusaha tidak mengeluarkan air mata. Tetapi hatiku telanjur menangis. Sepertinya ia sedang menghukumku. Atau aku sedang mendapat balasan dari perbuatan yang aku pernah tanpa sadar lakukan? Aku sandarkan tubuhku pada tepian dipan tempat tidurku. Dentuman drum dan cabikan gitar yang rancak dari Coldplay tak berhasil mengusir kepedihan hatiku. Karena Chris Martin malah membuatku semakin tersayat-sayat mendengarnya berlagu. Tears stream down on your face. When you loose something that you can’t replace. Ya, sesuatu yang telah hilang mungkin tidak akan kembali lagi. Mungkin juga tidak ada penggantinya.

Terkadang aku merasa bukanlah takdirku kalau kenyataannya tidak seperti yang aku inginkan. Aku merasa takdirku adalah seperti yang aku mau. Namun, berpikir betapa egoisnya aku dan Tuhan adalah segalanya ketimbang rupa-rupa para makhluk-Nya, aku memilih berdamai dengan kenyataan.