selipat 4
Ada saat aku merasa inilah waktunya aku mengutarakannya kepadamu. Perkecamukan dalam pikiranku, konflik batin antara mempertahankan aturan atau menuruti perasaanku terus menderaku tiada henti, yang akhirnya bermuara pada keputusanku mengutarakannya kepadamu.
Tidak mudah melakukan itu semua. Tidak mudah mengambil keputusan saat “perang” masih berkecamuk menghiasi pikiranku tiap hari. Pergumulan yang aku yakin pada sebagian orang membuat mereka menjadi gila. Aku pun teringat Kisah Layla Majnun.
Aku semakin “merajalela”. Semakin sering kamu balas pesan singkatku, semakin berani aku mengucapkan “sayang” kepadamu. Benar-benar seperti itu! Dan kamu tidak marah atau senang. Datar saja. Di satu sisi aku tetap penasaran. Di sisi lain aku menghibur diriku – subyektif sekali – bahwa kamu sebenarnya menyenanginya. Hanya tidak mau mengungkapkannya. Pun, aku semakin sering melontarkan kata-kata yang – menurutku – lebih pantas dikirimkan dan dibaca oleh mereka yang sedang kasmaran. Tetapi aku pikir kita – kamu dan aku – “nggantung”. Tidak benar-benar meresmikan hubungan ini, tetapi menyiratkan bahwa terbuka jalan menuju kesana. Aku merasa kamu memberiku harapan. Ah aku tidak merasa memberimu harapan kok. Dan kamu benar. Aku yang salah – sekali lagi – menanggapi setiap katamu.
Sejak saat itu, percayalah, aku bergulat dengan diriku sendiri. Sebuah pergumulan hanya untuk memastikan sikapmu kepadaku. Diriku meyakinkanku bahwa kamu sebenarnya menyukaiku, mungkin hanya karena terhalang aturan dan tradisi kamu enggan memulainnya duluan. Coba lihat setiap pesan yang balas untukmu. Perhatikan setiap kata-kata yang ia ucapkan, meski tak bersuara. Adakah kebencian di sana? Adakah kesinisan? Adakah rasa tidak suka? Tidak. Tidak ada sama. Sekali. Yang ada bahwa ia sebenarnya menyukaimu pula. Ia memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kamu rasakan. Itu semua selalu berdengung dalam pikiranku, membuatku kepalaku sakit memikirkannya. Aku, sebaliknya, merasa hubungan ini harus dibawa sewajarnya. Tanpa ada kecenderungan apa-apa. Minus niat apapun, persis seperti ketika pertama kali aku kirimkan pesan singkat kepadamu. Mirip hubungan antara penjual dan pembeli. Dan ketika satu pembeli telah berlalu dari hadapannya, sang penjual harus curahkan perhatiannya pada pembeli lainnya.
Aku berusaha realistis saja. Aku mengenalmu bukan ketika kita masih berupa anak kecil, yang bertelanjang kaki berlarian berkejaran. Semua kegiatan yang dilakukan dengan tulus. Tanpa ada semangat apapun. Dorongan apapun. Atau hasrat apapun. Aku mengenalmu ketika semua senyawa kimia dalam tubuhmu telah matang untuk dikeluarkan ketika tiba pada saatnya. Ketika kamu telah sempurna sebagai wanita. Ketika semua penampakan dan penampilanmu tidak sekedar menghadirkan perasaan kosong dalam diriku, melainkan sebentuk perasaan aneh diikuti dengan keinginan dari seorang lelaki dewasa yang perlu ditanggapi oleh seorang wanita dewasa pula.
Jadi, aku pikir ada seseorang yang mungkin pernah mengisi separuh hatimu yang bersamanya kamu berusaha merajut masa depan dan impian serta harapan. Lagipula, aku pikir sangat tidak mungkin kalau kamu sama sekali tidak punya pesona bagi lawan jenismu. Meski aku tahu keadaanmu seperti apa, aku pikir kamu juga adalah wanita normal yang senang berhias, menuruti perasaan dan kata hatimu, dan yang pasti ‘membolehkan’ jantungmu berdesir hanya pada saat-saat tertentu saja. Tak ada satu pun kekuatan yang, aku yakin, bisa menekanmu dari melakukan itu semua. Kelak aku membuktikan diriku benar atas aku, namun kemudian itu malah menjerumuskanku semakin dalam yang aku merasa kesulitan untuk lolos darinya.
Kamu membuatku menangis, sesuatu yang haram dilakukan oleh para lelaki, mungkin karena egoisme dan gengsi. Kamu tidak melihatnya. Tetapi hatiku bercucuran menjatuhkan semua harapan yang selalu bangun saat memikirkanmu.
“sudah siap semuanya?” aku bertanya singkat, kali ini masih sama seperti dulu bahwa aku memuati kata-kataku itu dengan cinta. “tinggal beberapa barang lagi, lalu semuanya beres dan aku berangkat”. Pagi hari yang dingin itu tidak sama seperti pagi hari ketika pertama kalinya aku mendapatkan balasanmu. Engkau akan pergi jauh. Tidak untuk selamanya. Hanya dalam beberapa saat. Tetapi itu sudah cukup membuatku kalut bahwa akan sangat lama aku akan kehilanganmu. Hari itu engkau akan KKN. Bayanganku tentang kegiatan pengabdian itu membuatku sangat khawatir.