selipat 5
Semuanya menjadi satu. Bahwa aku akan terputus kontak darimu. “katanya di sana ada sinyal kok. Jadi, tenang saja kita masih bisa SMS-an” kamu menghiburku saat aku meragukan bahwa kita masih bisa terus bersama. Aku lega. Sekaligus khawatir. Khawatir bahwa aku tidak bisa mengawasimu. Tetapi, bukankah, meski aku begitu ingin, aku tidak bisa melakukannya di hari-hari yang lain untuk kamu? Ah posesif sekali diriku. Juga egois. Cerita yang lain membayang tentang kegiatan di desa itu. “kira-kira kamu bakal dijodohin sama siapa ya?” aku menggodanya, yang sebenarnya menyiratkan bahwa aku tidak ingin menjalin hubungan dengan (pria) lain. “gak kepikiran tuh. Berangkat aja belum” ia menjawab sekenanya, tetapi tidak cukup kuat untuk mengalahkan kegalauan hatiku. Seandainya kamu tepat di depanku melihat wajahku saat mendengarmu mengatakan itu, kamu mungkin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatiku. Aku lantas hanya tersenyum. “aku berangkat dulu ya” ya ampun kamu memberiku harapan lagi, mengesankan bahwa aku-lah memang pelindungmu, penjagamu, di setiap kehidupanmu. Padahal aku seharusnya sadar itu hanyalah sebentuk kesopanan yang memang perlu dilakukan sebagai bentuk ketinggian dan keluhuran budi pekerti.
Sebulan kamu di KKN seharusnya membuat aku punya alasan untuk tidak memikirkanmu lagi. Kamu pasti sibuk berkegiatan, tidak ada sinyal, dan terutama bahwa, ketika sebulan selalu bersama dalam suka dan duka maka pasti akan timbul empati di antara sesama peserta, kamu pasti terjebak cinta lokasi. Aku bisa apa? Aku tidak bermaksud menudingmu sebagai penyebab kegagalanku tidak bisa melupakanmu. Itu sepenuhnya kesalahanku. Setidaknya, aku sekarang belajar bahwa mencintai bukanlah dengan sepenuhnya memberikan cinta kita, seolah-olah kamu adalah orang terakhir yang Tuhan telah takdirkan untukku. Alih-alih, kamu mungkin merasa tidak menerima cintaku. Mungkin juga tidak menyukainya, sebenarnya.
“Boleh gak aku main?” aku bertanya pelan pada suatu masa setelah aku terlonjak kegirangan mendapati bahwa aku masih bisa mengirim pesan pendek karena desa tempat kamu KKN telah terjangkau jaringan. Kamu hanya tersenyum. Atau kamu hanya tersenyum. Itu dugaanku. “buat apa?” kamu bertanya, mengesankan bahwa kamu sebenarnya tidak menginginkan aku mengunjungimu. “lagipula aku tidak punya jadwal kosong. Setiap hari selalu ada kegiatan. Aku juga bakal gak enak ma mereka kalo mereka sedang sibuk aku malah nyantai” itu adalah penolakan telak darimu. Dan aku tidak bisa mengajukan dalih apapun lagi.
Aku berharap sesungguhnya bahwa saat kamu KKN adalah kesempatanku untuk lebih dekat lagi. Denganmu tentu saja. Kapan lagi ada kesempatan saat kamu begitu jauh dari rumahmu yang memungkinkanku sekaligus mengenal kamu lebih akrab lagi? Tentu saja aku bisa membedakan mana yang seharusnya aku lakukan dan mana yang tidak boleh aku dekati. Aku hanya berusaha memuaskan perasaanku tentang siapa kamu sebenarnya.
Sepanjang bulan kamu KKN, itu adalah saat aku mewujud menjadi Kris Dayanti. Setidaknya aku mengamalkan lagunya untuk terus menghitung hari. Setiap perubahan hari terekam jelas dalam ingatanku, menandakan bahwa aku berusaha mengingat-ingat pergantian waktu. Aku selalu mengandaikan telah tiba satu minggu lebih cepat daripada kenyataan ini bahwa itu berarti kamu akan lebih cepat pula aku bertemu. Setiap malam, kala memandang langit-langit, aku hanya bisa berusaha membayangkan apakah yang sedang kamu lakukan di sana. Terkadang rasa itu menyergapku yang aku kesulitan untuk membuangnya sekaligus sesekali membuatku ragu apakah aku pantas denganmu. Aku tepis jauh-jauh, menggantikannya dengan sesuatu yang lebih utopis, narsis, bahwa kamu memang untukku.