selipat 6

Kepulanganmu menjadi dilematis bagiku. Di satu sisi aku senang bahwa semua yang dulu pernah kita lakukan bersama, meski sebatas pesan singkat, akan kembali menjadi sebuah rutinitas. Di sisi lain, sayangnya, aku terus gamang untuk memutuskan hendak dibawa kemana hubungan ini. Cintaku membuncah. Tetapi dorongan dari dalam untuk tetap berpijak pada kenyataan kuat pula menghimpit sebelah hatiku. Aku menyembunyikan semua itu, terkubur dalam senyumanmu yang siang itu aku lihat saat kamu hendak pergi – entah kemana.

Meski hari masih terlalu awal untuk orang-orang bangun dari tidurnya, suasana ketika aku sedang tidur sudah ramai. Aku yang sedari tadi berkalang mimpi terpaksa harus menarik kelopak mataku, membiarkan diriku melihat terang lampu neon kamarku. Ah masih ada waktu. Suasana puasa bagiku seperti saat itu kurang begitu menyenangkan. Aku harus antre bermenit-menit hanya untuk mendapatkan sebungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Aku membayang suasana yang sama jika terjadi di rumahku. Setelah bangun, aku santai saja ngeloyor ke meja makan, yang ibuku sudah sediakan sejak seperempat jam yang lalu. Yang aku lakukan hanyalah menarik keluar kursi, duduk, mengambil piring, dan menyendok makananku. Kenyang, aku punya dua pilihan: tidur sebentar yang berarti bisa kesiangan shalat shubuh atau shalat shubuh dulu. Intinya aku selalu tidur lagi selepas sahur. “Aku udah bangun dari tadi kok” begitu balasanmu ketika aku, yang berusaha mengesankan sebagai seorang yang bertanggung jawab, menyapamu. Aku tidak lupa. Aku mengerti siapa sebenarnya dirimu, dalam satu hal ini saja, bahwa kamu adalah nyonya rumahmu. Jadi, jika kita bicarakan tentang masakan, makanan, dan bagaimana menyiapkannya, maka kamu-lah nyonya rumah. Itu adalah, aku pikir, rahasia pertama yang kamu dengan senang hati berkenan untuk membeberkannya. Setidaknya, kamu mungkin menganggap itu bukanlah sebuah rahasia yang jika diceritakan pada siapa saja akan menjadi aib. Alih-alih, kamu menganggap itu tidak lebih daripada sebuah rutinitas belaka yang perlu diberikan sebagai jawaban jika ada yang menanyakannya. ““mau dong aku icip-icip juga” setengah menggodamu aku berusaha memikat perhatianmu, menyiratkan bahwa aku ingin pula mengagumi kelebihanmu memasak. “sayang banget. Udah abis tu” kamu santai membalasku.

Bagaimana bisa aku – waktu itu – menolak seorang wanita dengan keadaan hampir sempurna seperti kamu? Tiap pria standar pasti punya harapan tentang wanita yang kelak mereka peristri: cantik, berambut panjang, bisa menjaga diri, dan tahu kewajiban dan apa yang harus ia lakukan. Ah, mungkin Nabi telah menyihirku dengan kata-kata magisnya: wanita yang baik itu adalah menyenangkan hatimu saat melihatnya, jika disuruh ia patuh, jika kamu bepergian ia menjaga harta dan kehormatanmu. Entahlah. Aku hanya merasa secara bawah sadar kamu-lah untukku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan seperti itu bisa muncul. Apakah itu karena aku hanya baru mengenal sedikit tentang kamu, jadi hanya terpesona pada sekilas saja tentang dirimu, ataukah karena keadaan diriku yang begitu lama ‘terisolasi’, jauh perhatian dan kelembutan, sehingga sekali saja ada perhatian dan curahan kasih sayang dan aku merasa bisa pula membalasnya, aku menganggapnya segala-galanya. Dan semua pertanyaan itu terus mendengung dalam pikiranku, terngiang-ngiang sepanjang waktu di telingaku sebagai usahaku untuk menyadarkanku.

Separuh puasa telah kita lewati dan aku merasa kali itu sangat istimewa. Bahwa aku sangat menikmati bangun awal hariku, menghadirkan semangat dalam diriku bahwa ada hal yang jauh lebih penting ketimbang sahur. Bagiku tidak masalah tentu bersahur hanya dengan kurma dan seteguk air. Tetapi, kamu membuatku kuat menghadapi puasa seharian tanpa perutku terganjal makanan beragi itu.

Ketika puasa telah mencapai ¾ bagiannya, aku terdorong untuk memutuskan inilah saatnya. Entah kekuatan mana yang melakukannya. Intinya jika tidak kamu lakukan sekarang, kamu mungkin akan menyesal sepanjang hidupmu. Lakukanlah sekarang dan akan kamu dapati bahwa setidaknya kamu telah berusaha. Bahwa kamu telah mengetahui hasilnya. Bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu belum berusaha? Semua dorongan itu membuat kepalaku sakit dan tanpa sadar aku memencet-mencet tombol ponsel, terlihat seperti sedang membuat pesan. Aku memang membuat sebuah “lamaran” untuk dia. Dan dalam hitungan detik saja, “kata-kata” dariku telah nangkring di ponselmu. Satu menit berlalu. 5 menit menjelang. 10 menit sudah terlewati. 20 menit. 30 menit. Satu jam. Masih tidak ada balasan darimu. Aku tidak sabar. Aku tidak sabar menunggu balasanmu, menanti reaksi, mengharap jawabanmu.

Aku harus menunggu, mungkin dalam waktu yang aku rasa paling lama, sebelum aku bisa mendapatkan balasanmu. Satu hal bahwa kamu telah membalas yang berarti memuaskan penantian adalah berbeda dengan kenyataan bahwa balasanmu tidak seperti yang duga. Jika aku berharap balasanmu seperti keinginanku, itu sangat subyektif sekali. Kamu hanya menjawab datar, hampir-hampir mengesankan kamu tidak menanggapi permintaanku. Aku berpikir kamu sedang berusaha menghindar, namun kewalahan untuk menemukan kata yang tepat untuk menolaknya. Lelah karena seharian dibiarkan menunggu, aku enggan untuk meneruskan kembali perpesanan itu hanya untuk menyelidiki dan memperoleh ketegasanmu. Alih-alih, aku memilih … TIDUR. Meski aku tahu aku melakukannya diiringi perasaan tak menentu, herannya, aku masih bisa memperoleh mimpi di siang bolong saat itu.    

Hanyalah sebentuk eufemisme bahwa kamu membalas tidak seperti yang aku duga. Yang ada sebenarnya, itu hanyalah caraku memperhalus betapa kamu sebenarnya tidak pernah menanggapi perasaanku. Aku masih saja belum bisa membedakan antara perhatian seharusnya dengan perasaan mendalam yang namanya cinta. Aku menangis. Tetapi tanpa air mata. Aku tahu itu tidak pantas ditangisi. Entah karena aku sudah mengetahui bahwa kamu sebenarnya tidak pernah menanggapi perasaanku atau aku hanya menahan diri. Menjaga gengsi dan egoismeku. Salah satu bisa benar. Keduanya bisa saja salah.

Aku menggulung puasa bulan itu dan menjelang hari kemenangan dengan kegalauan yang menyelimuti sekujur perasaanku. Semuanya berakhir anti-klimaks dan … TRAGIS. Jadi selama ini semuanya sia-sia belaka? Aku mencoba menghalau perasaan inferior itu, menghibur diri bahwa ini bukanlah akhir segalanya. Namun, semakin kuat aku berusaha semakin deras rasa penyesalan itu menyesakku meratapi keputusanmu yang “kejam” itu.

Leave a Reply