selipat 7
Anehnya, aku yang separuh hatiku telah dicampakkan masih bisa menyisihkan separuh hatiku yang lainnya tetap hanya untuk kamu. Selepas libur panjang, semuanya kembali seperti biasa. Kamu berlaku biasa. Aku masih sama dalam memperlakukanmu seperti sejak pertama ketemu. Seolah tidak terjadi peristiwa besar yang seharusnya menjadikan para pelakunya diliputi kebencian dan penyesalan kesumat bersamaan. Untungnya, tak seorang pun yang mengetahui “affair”-ku itu. Dengan pintarnya, aku bersikap seolah-olah aku mengenalmu hanya sebatas nama belaka. Tidak lebih. Dan mereka percaya. Di belakang kalian aku beraksi.
Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi aku benamkan di antara lututku kala sedang duduk. Semua kenangan bersama kamu terasa sangat menyesakkan ketika kenyataan ini harus ditakdirkan terjadi. Aku seharusnya tidak bisa berlama-lama di masa lalu dan harus segera menjemput masa depan. Sayangnya, mereka terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Dan aku masih berusaha mengembalikan semua itu.
Awalnya, aku senang ketika kamu putuskan tidak memperpanjang “salah paham” antara kita. Aku pikir masa silam sedang terulang lagi. Aku sudah begitu senang membayangkan semua kenangan yang pasti akan kita ulangi lagi dan mungkin lebih baik lagi.
Satu pesan aku sampaikan untukmu sekedar menyapa. Hanya diam pada malam itu yang mengusik penantianku. Aku coba sekali lagi, kali ini dengan alasan yang semoga memantik kesediaanmu membalasnya. Aku kembali mendapatkan kosong. Engkau terlihat sepertinya masih bergeming. Mungkin alatnya dan dirinya sedang terpisah jauh. Aku menghibur diri, membayangkan bahwa di tempat barumu ini kamu lebih leluasa mengatur hidup dan keinginanmu sendiri. Hingga aku kelelahan menantimu dan terbangun saat hawa dingin awal hari membangunkanku yang tak berselimut, alatku tetap tak menampilkan satu pun pesan singkat darimu.
Aku sedih. Keputusanmu tidak mengakhiri dahagaku akan semua kenangan yang dulu pernah kita buat bersama. Atau dia mungkin sakit hati? Berulang kali aku berusaha menghilangkan dugaan polos seperti itu, tetapi semakin kuat aku berusaha, semakin dalam ia mencengkeram seluruh jiwa dan perasaanku, mengesankan bahwa benar adanya demikian. Tak bisa dipungkiri, bahwa kekeliruan dan kebodohanku telah membuatku kehilangan salah satu momen terbaik dalam hidupku, yang mungkin tidak akan terulang lagi. A chance in a lifetime. Rupanya, aku pikir, keputusanmu mengakhiri “perseturuan” kita aku salah menafsirkannya. Kamu. Aku. Kita memang berbeda.