Ah, ternyata wanita juga bisa berbohong. Dan aku bisa jadi adalah yang pertama menjadi korban gombalan mereka. Aku bukannya sedang mengeluh. Aku berusaha memberi gambaran obyektif untuk menyeimbangkan stereotip yang ‘melegenda’ di masyarakat bahwa mereka; wanita dan perempuan, telanjur menjadi korban mulut manis para lelaki.
Dia berkata bahwa dia tidak berniat melukai perasaan siapapun. Jadi, dia hati-hati dalam berucap, bertindak, dan berperilaku. Hm, meski menurutnya ia telah berusaha sebaik-baiknya memegang komitmennya, toh masih ada ternyata yang tersakiti hatinya.
Aku tidak bermaksud – dengan menulis ini semua – menuntutnya untuk meralat keputusannya itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Karena itulah – ketidakpedulianku – justru merupakan bentuk penghormatanku terhadap dirinya dan situasi yang berkembang belakangan ini.
Aku tidak menangis. Buat apa? Buat apa menangisi bunga yang telah dipetik orang lain? buat apa meratapi madu yang telah direguk habis? Apa untungnya? Sinis mungkin terasa lisanku mengucap demikian. Demikianlah adanya. Aku, kali ini, tidak akan mendengar nuraniku. Sebagai gantinya, aku lebih memilih bersepakat dengan ego-ku yang terluka. Karena itu lebih melegakan dan memuaskan dalam menuntut balas, meski frase itu mungkin tidak seharafiah maknanya dalam perwujudannya.
Inginkah kamu aku ceritakan tentang apa yang aku maksud dengan ‘menuntut balas’? meski kamu mungkin tidak tertarik, aku tidak akan memaksamu untuk mendengarku bercerita tentang maksudku itu. Aku tentu tidak boleh mengharapkan takdir buruk berlaku atas dirinya – dan pasangannya itu. Aku juga tidak pantas mengutuk mereka. Semua itu adalah hak tunggal Tuhan. Tak ada yang bisa menyamainya.
Aku justru ‘bekerja sama’ dengan Tuhan. Mengerti maksudku? Aku mengikuti saja kemana Tuhan mengarahkan takdir mereka. Dan ketika tiba waktunya, yaitu pada saat ia paling membutuhkanku daripada yang lainnya, itulah saat yang membuatku tersenyum. Saat itulah kamu mengerti bahwa makna ‘menuntut balas’ telah kamu pahami saat kamu melihatku mengambil keputusan itu.
Aku tidak akan mengulurkan tanganku. Bahkan, jika ia sekarat pun aku akan melewatinya begitu saja. Percayalah padaku bahwa aku akan memegang kata-kataku ini. Aku tidak mengharap itu terjadi pada suatu yang aku tetapkan sesuai kehendakku. Aku hanya mengiringinya dari jauh, dan ketika ia melihatku dengan pandangan memelas saat terjatuh, aku akan memilih berlalu darinya.
Jika aku tidak tegas seperti ini, aku berarti tidak punya karakter. Tiap orang harus memunculkan karakternya. Karakterku adalah berkomitmen pada kata-kata dan keputusanku.
Sekarang saatnya kembali melanjutkan hidup, setelah sebelumnya terombang-ambing dalam kemabukan kepayang sejak kehadirannya yang palsu itu. Ia mungkin bukan penipu, tetapi jelas ia adalah wanita yang tidak punya perasaan – tidak seperti perkataan lisannya yang manis itu. Untuk apa ia menabur pesona di hatiku kalau akhirnya ia sendiri yang merenggutnya dengan paksa dari hatiku? Untuk apa ia tawarkan manisnya madu kalau akhirnya ia malah menyayat hatiku dengan kata-katanya sendiri? Menurutmu; apakah ia harus menanggung akibatnya atas perbuatannya kepadaku? Aku tidak menginginkan demikian. Sungguh. Bisa melupakannya. Hanya itu keinginanku semata. Dan aku sedang melakukannya.


