Kenapa Harus Jogja? (Ketika Semua Kenangan Begitu ‘Berkarat’ di Hatiku)
Yogyakarta… kenapa ia begitu istimewa bagiku? Jika boleh dianggap demikian, apa itu karena gudeg-nya yang enak? Atau Kaliurang-nya yang sejuk di lereng Merapi yang terkenal itu? Atau pula, karena Candi Prambanan dimana kisah cinta sejati Rama dan Shinta sering dipentaskan?
Yogyakarta – atau yang sekarang diusahakan dieja Jogjakarta – adalah ibukota dari propinsi dengan nama yang sama. Ia sebenarnya tidak lebih istimewa dari “pulau liburan”; Bali, yang dari namanya jelas menyuratkan merupakan tujuan utama para turis saat terbebas dari rutinitas kerja mereka. Jogja, bahkan, pada penilaian terbaiknya, cukup dibandingkan dengan Solo, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah – satu jam perjalanan ke arah timur.
Jadi, sampai saat ini tentu masih berupa rasa penasaran mendalam bagi siapa saja yang mengetahui betapa berartinya Jogja bagiku. Sebagai misal, bukanlah gudeg yang membuat aku terkenang akan Jogja, tetapi dengan siapa aku menikmati gudeg yang membuat Jogja tak lekang oleh waktu dalam ingatanku.
Tetapi, apakah sesederhana itu – mungkin demikian argumen yang coba dikemukakan sebagian orang yang meragukan perasaanku itu – untuk memiliki sebuah kenangan yang sebenarnya tidak cukup memadai untuk tetap utuh tersimpan dalam ingatanku.
Coba kami tanyakan padamu – mungkin mereka akan melanjutkan seperti itu – sudah berapa kali kamu mengunjungi Jogja dan terutama sekali bagaimana kamu memanfaatkan kunjunganmu di sana?
Dan aku akan menjawab diiringi sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa aku akan dianggap gagal memenuhi praduga mereka yang mengajukan argumen itu bahwa hanya dibutuhkan satu tanganku yang tidak meliputi seluruh jemariku di sana untuk mengakumulasikan seluruh kunjunganku ke Jogja.
Sebenarnya, secara linear, dapat dikatakan bahwa semakin sering kamu mengunjungi suatu tempat, maka semakin kuat kamu mengingatnya yang itu berarti semua kenangan saat kamu di sana terekam kuat dalam ingatanmu.
Jadi, sesungguhnya – demikian mereka mungkin menyimpulkannya – aku tidak punya alasan kuat bahwa Jogja begitu penting bagiku untuk terus dikenang.
Setelah mereka terlihat puas karena berhasil mematahkan pendirianku tentang Jogja – entah untuk alasan apapun – aku meminta giliranku untuk mengajukan serangkaian pertanyaan kepada mereka.
Coba pikir satu hal, demikian aku berkata setelah mendapat giliranku, yang kelihatan tidak begitu penting tetapi ternyata pengaruhnya begitu kuat dan mengakar. Satu hal ini tidak membutuhkan logika. Ia kadang malah terlihat irasional, tetapi tetap saja ia mampu menyeret mereka yang memilikinya melakukan secara sadar apa yang bagi sebagian orang terlihat mustahil untuk dilakukan.
Itu adalah usahaku “membela diri,” mengajukan semacam dalih – meski tidak seharafiah demikian – tentang betapa Jogja begitu penting hingga saat ini.
Bukanlah jalanan Malioboro yang membuatku tak bisa melupakan Jogja ketika bersamanya aku menyusuri sepanjang malam. Bukan pula sendratari Rama dan Shinta yang memikatku sehingga Jogja terekam kokoh dalam benakku saat menyaksikannya di sebelah gadis yang tidak kalah cemerlangnya dari rembulan yang selalu menerangi sendratari bernaungkan langit berpurnama itu dan selalu menggenggam kuat jemariku seolah-olah ia tidak ingin berpisah dariku. bukan pula hamparan pasir hangat Laut Selatan yang kami jejakkan kaki kami bersama sembari menikmati mentari yang perlahan menuju peraduannya untuk kemudian digantikan sang dewi malam sementara tangan kami tak lepas untuk terus bersatu erat. Itu semua kejadian romantis, percayalah. Dan, tentu saja, paling diharapkan untuk dijalani bersama oleh baik pasangan kekasih yang sedang kasmaran maupun mereka yang telah ‘berumur’ menjalani cinta mereka.
Tetapi, itu sayangnya, bukan yang aku alami.
Hingga di sini, sepertinya aku benar-benar tidak menghadirkan satu alasan kuat tentang Jogja-ku itu. Ataukah aku sedang membicarakan Jogja yang lain? mereka mulai kasak-kusuk; berpikir bahwa aku sepertinya sedang berusaha “mengacaukan” peta Indonesia. aku menenangkan mereka dengan senyumku, yang selalu aku lakukan setelah setiap hari ia selalu tersenyum padaku dalam perasaan yang teramat misterius bagiku (percayalah, ia bukan Monalisa jika sempat kamu berpikir seperti itu).
Di kota itu; Jogjakarta – ketika waktu seharusnya berhenti ketika kita menikmati setiap sudut kota – aku sejatinya tak pernah beradu mata dengannya. Tetapi, ia terlalu penting bagiku untuk disingkirkan dari separuh hatiku yang pernah ia sekali tepat menembus di tengah-tengah hatiku. Lagipula, aku tak menginginkannya dibiarkan tak terisi – atau katakanlah, ia memang berhak atas separuh hatiku itu.
Ia tak menuntutnya. Aku yang menyediakannya. Jadi, aku mengerti bagaimana menikmati semua romantisme itu dengannya tanpa ia harus menyadari bahwa aku sedang berada tepat di sampingnya. Ia pasti tak peduli karena mungkin tak sedikit pun aku terlintas dalam pikirannya, meski hanya sekelebatan bayangan.
Inilah kenapa Jogja begitu berharga dan penting bagiku untuk terus dikenang dan tersimpan meski itu berada di alam bawah sadar – yang sebenarnya lebih lama tersimpan dan teringat. Karena di sana; di Jogja itu, entah tepat dimana, berdiri seorang gadis yang bahkan tak pernah menyadari bahwa aku memiliki perasaan ini kepadanya yang sanggup menerjang – mungkin seperti badai Gustav yang sekarang melanda – hatiku, menyapu seluruh permukannya untuk menutupinya dengan senyumnya, wajahnya, dan – terutama – sepasang mata indahnya. Ia membuatku merasakan semua sensasi yang memang aku belum pernah merasakannya. Dan, ia melakukannya dengan cara yang sungguh indah sehingga aku tidak keberatan mendapati – bahwa demikianlah kenyataannya – ia tidak menempatkan aku di hatinya seperti yang aku lakukan padanya di hatiku.
Cinta dan jatuh cinta terasa irasional dan tidak logis untuk dimengerti. Aku sebenarnya menyadari ia terkadang sering menyakiti dan menyakitkan. Tetapi ia pula yang menguatkan diriku untuk rela merasakan sakit dan kepedihan itu. Adakah logika, dalil, rasio, atau apa saja yang bisa menjelaskan fenomena itu? Bahkan, cinta sesekali bisa menebasmu. Tetapi, justru karena itulah aku menyongsongnya dan menjemputnya. Dan, itulah yang aku lakukan hingga saat ini. Apakah menyenangkan teriris oleh cinta?
Tanyakan padaku. Karena aku punya jawabannya.
July 14, 2009 at 11:34 am
jogja itu rumah keduaku

seperti halnya aku yang jatuh cinta kepada bandung, mungkin jika rumah keduaku tak disini aku juga akan mencintai jogja, lebih mencintainya daripada bandung
nice post
October 10, 2009 at 6:56 am
eghhhh….. entah kenapa kota satu itu selalu membuat anganku langsung terbang dan singgah ditaun 2002…. dimana waktu itu berbagai kenangan suka dan duka terukir rapi dibenakku……