Archive for the emotional feelings Category

Kenapa Harus Jogja? (Ketika Semua Kenangan Begitu ‘Berkarat’ di Hatiku)

Posted in emotional feelings on September 3, 2008 by thestolenkid

Yogyakarta… kenapa ia begitu istimewa bagiku? Jika boleh dianggap demikian, apa itu karena gudeg-nya yang enak? Atau Kaliurang-nya yang sejuk di lereng Merapi yang terkenal itu? Atau pula, karena Candi Prambanan dimana kisah cinta sejati Rama dan Shinta sering dipentaskan?

Yogyakarta – atau yang sekarang diusahakan dieja Jogjakarta – adalah ibukota dari propinsi dengan nama yang sama. Ia sebenarnya tidak lebih istimewa dari “pulau liburan”; Bali, yang dari namanya jelas menyuratkan merupakan tujuan utama para turis saat terbebas dari rutinitas kerja mereka. Jogja, bahkan, pada penilaian terbaiknya, cukup dibandingkan dengan Solo, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah – satu jam perjalanan ke arah timur.

Jadi, sampai saat ini tentu masih berupa rasa penasaran mendalam bagi siapa saja yang mengetahui betapa berartinya Jogja bagiku. Sebagai misal, bukanlah gudeg yang membuat aku terkenang akan Jogja, tetapi dengan siapa aku menikmati gudeg yang membuat Jogja tak lekang oleh waktu dalam ingatanku.

Tetapi, apakah sesederhana itu – mungkin demikian argumen yang coba dikemukakan sebagian orang yang meragukan perasaanku itu – untuk memiliki sebuah kenangan yang sebenarnya tidak cukup memadai untuk tetap utuh tersimpan dalam ingatanku.

Coba kami tanyakan padamu – mungkin mereka akan melanjutkan seperti itu – sudah berapa kali kamu mengunjungi Jogja dan terutama sekali bagaimana kamu memanfaatkan kunjunganmu di sana?

Dan aku akan menjawab diiringi sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa aku akan dianggap gagal memenuhi praduga mereka yang mengajukan argumen itu bahwa hanya dibutuhkan satu tanganku yang tidak meliputi seluruh jemariku di sana untuk mengakumulasikan seluruh kunjunganku ke Jogja.

Sebenarnya, secara linear, dapat dikatakan bahwa semakin sering kamu mengunjungi suatu tempat, maka semakin kuat kamu mengingatnya yang itu berarti semua kenangan saat kamu di sana terekam kuat dalam ingatanmu.

Jadi, sesungguhnya – demikian mereka mungkin menyimpulkannya – aku tidak punya alasan kuat bahwa Jogja begitu penting bagiku untuk terus dikenang.

Setelah mereka terlihat puas karena berhasil mematahkan pendirianku tentang Jogja – entah untuk alasan apapun – aku meminta giliranku untuk mengajukan serangkaian pertanyaan kepada mereka.

Coba pikir satu hal, demikian aku berkata setelah mendapat giliranku, yang kelihatan tidak begitu penting tetapi ternyata pengaruhnya begitu kuat dan mengakar. Satu hal ini tidak membutuhkan logika. Ia kadang malah terlihat irasional, tetapi tetap saja ia mampu menyeret mereka yang memilikinya melakukan secara sadar apa yang bagi sebagian orang terlihat mustahil untuk dilakukan.

Itu adalah usahaku “membela diri,” mengajukan semacam dalih – meski tidak seharafiah demikian – tentang betapa Jogja begitu penting hingga saat ini.

Bukanlah jalanan Malioboro yang membuatku tak bisa melupakan Jogja ketika bersamanya aku menyusuri sepanjang malam. Bukan pula sendratari Rama dan Shinta yang memikatku sehingga Jogja terekam kokoh dalam benakku saat menyaksikannya di sebelah gadis yang tidak kalah cemerlangnya dari rembulan yang selalu menerangi sendratari bernaungkan langit berpurnama itu dan selalu menggenggam kuat jemariku seolah-olah ia tidak ingin berpisah dariku. bukan pula hamparan pasir hangat Laut Selatan yang kami jejakkan kaki kami bersama sembari menikmati mentari yang perlahan menuju peraduannya untuk kemudian digantikan sang dewi malam sementara tangan kami tak lepas untuk terus bersatu erat. Itu semua kejadian romantis, percayalah. Dan, tentu saja, paling diharapkan untuk dijalani bersama oleh baik pasangan kekasih yang sedang kasmaran maupun mereka yang telah ‘berumur’ menjalani cinta mereka.

Tetapi, itu sayangnya, bukan yang aku alami.

Hingga di sini, sepertinya aku benar-benar tidak menghadirkan satu alasan kuat tentang Jogja-ku itu. Ataukah aku sedang membicarakan Jogja yang lain? mereka mulai kasak-kusuk; berpikir bahwa aku sepertinya sedang berusaha “mengacaukan” peta Indonesia. aku menenangkan mereka dengan senyumku, yang selalu aku lakukan setelah setiap hari ia selalu tersenyum padaku dalam perasaan yang teramat misterius bagiku (percayalah, ia bukan Monalisa jika sempat kamu berpikir seperti itu).

Di kota itu; Jogjakarta – ketika waktu seharusnya berhenti ketika kita menikmati setiap sudut kota – aku sejatinya tak pernah beradu mata dengannya. Tetapi, ia terlalu penting bagiku untuk disingkirkan dari separuh hatiku yang pernah ia sekali tepat menembus di tengah-tengah hatiku. Lagipula, aku tak menginginkannya dibiarkan tak terisi – atau katakanlah, ia memang berhak atas separuh hatiku itu.

Ia tak menuntutnya. Aku yang menyediakannya. Jadi, aku mengerti bagaimana menikmati semua romantisme itu dengannya tanpa ia harus menyadari bahwa aku sedang berada tepat di sampingnya. Ia pasti tak peduli karena mungkin tak sedikit pun aku terlintas dalam pikirannya, meski hanya sekelebatan bayangan.

Inilah kenapa Jogja begitu berharga dan penting bagiku untuk terus dikenang dan tersimpan meski itu berada di alam bawah sadar – yang sebenarnya lebih lama tersimpan dan teringat. Karena di sana; di Jogja itu, entah tepat dimana, berdiri seorang gadis yang bahkan tak pernah menyadari bahwa aku memiliki perasaan ini kepadanya yang sanggup menerjang – mungkin seperti badai Gustav yang sekarang melanda – hatiku, menyapu seluruh permukannya untuk menutupinya dengan senyumnya, wajahnya, dan – terutama – sepasang mata indahnya. Ia membuatku merasakan semua sensasi yang memang aku belum pernah merasakannya. Dan, ia melakukannya dengan cara yang sungguh indah sehingga aku tidak keberatan mendapati – bahwa demikianlah kenyataannya – ia tidak menempatkan aku di hatinya seperti yang aku lakukan padanya di hatiku.

Cinta dan jatuh cinta terasa irasional dan tidak logis untuk dimengerti. Aku sebenarnya menyadari ia terkadang sering menyakiti dan menyakitkan. Tetapi ia pula yang menguatkan diriku untuk rela merasakan sakit dan kepedihan itu. Adakah logika, dalil, rasio, atau apa saja yang bisa menjelaskan fenomena itu? Bahkan, cinta sesekali bisa menebasmu. Tetapi, justru karena itulah aku menyongsongnya dan menjemputnya. Dan, itulah yang aku lakukan hingga saat ini. Apakah menyenangkan teriris oleh cinta?

Tanyakan padaku. Karena aku punya jawabannya.

to forget you

Posted in emotional feelings on June 1, 2008 by thestolenkid

hari ini aku membaca wawancara wartawan Jawa Pos dengan rektor Universitas Paramadina, Anis Baswedan tentang pengajaran anti korupsi sebagai mata kuliah dasar umum. sang rektor menjelaskan bahwa orang melakukan korupsi karena ada dua faktor: keinginan (willingness) dan kesempatan untuk korupsi (an opportunity to corrupt).
aku tidak bermaksud menantang ide-ide sang rektor. tetapi, justru dari wawancara itulah aku memperoleh inspirasi. inspirasi untuk melakukan sesuatu hal besar yang selama ini sepertinya aku selalu gagal melakukannya: melupakanmu.
engkau tidak seperti dia, dia, atau dia yang dengan mudah aku melupakan atau dilupakan. atau, aku pun terlihat sengaja tidak melupakanmu. yang jelas aku memperoleh pencerahan pagi ini via wawancara itu.
aku gagal melupakanmu karena aku sengaja (yang berarti ada niat) untuk mengingatmu. aku dengan rela membiarkan dirimu menguasai pikiraku dengan semua pesona palsumu. sepertinya aku tidak mampu membedakan mana yang merupakan cinta dengan perasaan sekedar kagum. aku mencampuradukkan keduanya.
jadi sekarang inilah saatnya. tidak ada kompromi. semua harus aku memandangnya secara hitam putih. jika tidak seperti ini, harus seperti itu. tidak bisa ini-itu.
aku telah memancangkan niat untuk melupakanmu. itu adalah awal yang bagus. tetapi satu faktor saja tidak cukup. makanya aku akan menutup semua celah yang bisa menggiringku untuk kembali mengingatmu. satu pintu telah aku identifikasi: hari ultahmu. aku tetap mengingatnya. tetapi, maaf saja aku merasa ‘kering’ saat mengingatnya untuk merayakannya. juga pada saat merayakannya.
tujuh hari lagi … enam hari lagi … semua akhirnya gagal di tengah jalan karena agenda agung ini. aku tidak menyesalinya. karena dirimu pun tidak pernah mau peduli pada hati dan perasaanku.

siapa kamu?

Posted in emotional feelings on June 1, 2008 by thestolenkid

malam ini aku merindukanmu. kamu membuatku sedikit terlihat bodoh di depan teman-temanku. aku pikir mereka sekilas melihat aku tersenyum meski tiada satu pemandangan pun yang menjadi alasan aku tersenyum. aku tidak peduli. sekelebat dirimu dalam pikiranku membuatku tiba-tiba bersemangat. ada energi aneh yang menjalari seluruh sendi dan tulang-tulangku. sebuah kekuatan, menurutku, yang membuat otakku aktif kembali bekerja. tidak diam seperti biasa. karena kerinduanku padamu yang mendalam, tiba-tiba saja suaramu terdengar jelas dalam pikiranku, menghentak hebat dalam setiap sambungan neuron dan dendrit di kepalaku. suaramu membelai lembut kekosongan hatiku. dan aku merasakah sentuhan itu. gingsul gigimu, yang membuatmu semakin cantik dalam kesederhanaan, membuatku memejamkan mataku erat-erat, sebuah usaha agar aku bisa mempertahankan dirimu, meski hanya sebatas khayalanku.
entah apa lagi yang harus aku lakukan. alasan berikutnya macam apa yang bisa aku pura-purakan hanya untuk mendekatimu. hanya itu, hingga saat ini, satu-satunya cara agar aku selalu dekat denganmu. supaya aku senantiasa merasa memilikimu. meski aku tidak tahu yang sebenarnya. tentu aku tidak menyerah. dan akan aku biarkan perasaan seperti ini berkembang. perasaan positif yang memunculkan rasa optimisme dalam diriku untuk menjelang hari esok.
ya, tiba-tiba saja aku mendapati diriku tidak sabar menyongsong hari esok. sebuah kejadian yang aku sendiri tidak pernah menduganya. sebelumnya, setiap pergantian hari adalah sesuatu yang biasa. sekarang, aku selalu berbinar. bersemangat. memandang hari esok sebagai sebuah tantangan yang harus aku taklukkan untuk mendapati sesuatu yang aku kejar dan harus aku raih. dan aku senang alasan aku melakukan semua itu karena dirimu. karena aku telah jatuh cinta padamu. meski mungkin ini seperti jalan tak berujung dalam meraih cintamu. entah siapa nama kamu, Sayang.

Kangen

Posted in emotional feelings with tags on June 1, 2008 by thestolenkid

tiba-tiba saja aku merindukanmu. aku tidak bisa memastikan bagaimana hal itu bisa terjadi. aku sudah lama tidak memikirkanmu. teman-teman kita pun tidak pernah menyinggung dirimu ketika menyapaku. aku pun tidak pernah berusaha menanyakan kabarmu melalui mereka. aku tahu keadaanku. aku juga mengerti apa yang telah terjadi padamu. dirimu sudah tidak bisa aku usik lagi selepas engkau memutuskan mengikatkan dirimu dalam pertalian suci yang niscaya tak satu kekuatan pun di dunia ini bisa memutuskannya. aku sadari itu. aku yang menarik diri meski engkau mungkin tidak menginginkannya.
aku sadar jika sekarang kau tidak sedang memikirkanku. meski aku pernah meletakkan sesuatu yang berarti dalam sebuah perjalanan hidupmu, aku pikir kamu pasti merasa tidak pantas jika terus menyimpannya. kamu benar. separuh hatimu telah menggeser aku keluar dari hatimu, terisi oleh satu kisah baru yang kau hendak melanjutkannya menuju masa depan.
tetapi kenapa aku masih memikirkanmu, meski setahun telah berlalu sejak engkau diberkahi di depan altar dan terikat perjanjian suci? engkau mungkin telah pergi dari kehidupanku – meski aku tidak menginginkannya. aku masih berdiam di masa lalu mengenang setiap saat pertemuan kita, setiap tatapan kita, dan terutama setiap masa yang engkau justru pernah melukaiku. sekarang semua itu dibangkitkan lagi oleh senarai alunan nada lembut yang mampu memunculkan lagi semua gambaran itu. senang. sedih. marah. dongkol. kecewa. semua jadi satu. aku punya alasan  untuk membencimu, lalu memutuskan untuk membuat perhitungan denganmu sebagai sebuah pembalasan atas semua yang pernah kau lakukan. tetapi cintaku padamu terlalu besar untuk dikalahkan oleh sebongkah dendam yang belakangan memudar. aku mencintaimu dengan kebencianku. aku membencimu jika mengingat semua perlakuanmu padaku. tetapi itu pula pada saat yang sama membuatmu terus mencintaimu. dan percayalah, pergumulan yang terjadi dalam perasaanku jauh lebih romantis ketimbang apa yang pernah aku ungkapkan padamu. untuk saat ini, selamat malam, Sayang.

PASRAH SAJALAH

Posted in emotional feelings with tags on May 18, 2008 by thestolenkid

Malam ini aku muak melihatnya. Sepanjang waktu ia hanya mengoceh, berbicara sepanjang berlangsungnya sebuah siaran televisi tanpa memedulikan apakah perkataannya itu disukai atau tidak. Puncaknya adalah, ia dengan seenaknya mencemooh seseorang yang ada di sebelahnya dengan kata-kata yang sebenarnya terdengar sangat rasis. Orang itu memang bukan aku. Tetapi, atas nama kemanusiaan dan kesetaraan derajat, tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan.

Aku mengerti ia sedang senang. Siang hari sebelumnya ia berhasil merampungkan perbaikan karya tulisnya yang kemudian ia segera letakkan di loker pembimbingnya. Aku bisa merasakan bahwa beban beratnya telah hilang sebagian – ada banyak beban menghimpitnya. Jadi, wajar, tentu saja, jika ia berperilaku seperti itu.

Bagiku, itu tidak pantas. Menurutku yang sedang ia tampilkan adalah sebuah kemunafikan. Betapa tidak, kala ia masih dirundung masalah yang sama, ia terlihat santun, tawadhu, menggiatkan ibadahnya, berbicara yag sopan kepada siapa saja, dan bertingkah layaknya orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhannya.

Tetapi apa yang terjadi kemudian setelah Tuhan mencabut salah satu bebannya? Layaknya air yang memancar keluar begitu sumbatnya dilepas, ia tampil ‘kesetanan’. Ia seolah-olah lupa untuk bersyukur. Dan bersyukur tidak cukup hanya dengan lisan saja. Harus ada perbuatan nyata. Dan itu adalah mempertahankan semua perbuatan yang pernah dilakukan ketika masih sedang susah.

Khalil gibran berkata bahwa kita mengingat Tuhan hanya pada saat susah. Seharusnya saat Tuhan melimpahkan kebahagiaan, itulah yang seharusnya membuat kita lebih sering dan lebih khusyu’ mengingatNya.

Sebenarnya ada keinginan untuk menegurnya, menyatakan bahwa ia tidak boleh lepas kendali semacam itu. Tetapi siapalah aku? Akhirnya, aku hanya sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tampil sok menasehatinya. Aku memilih diam dan berusaha memahaminya.

Sebenarnya pula ada keinginan untuk berdo’a kepada Tuhan, memohon agar Ia mencabut nikmat yang sudah Ia turunkan itu. Tetapi, alhamdulillah, lagi-lagi aku membatalkannya sembari bertanya kepada hatiku: siapalah aku? Malah jiwaku kemudian tersungkur karena jika itu aku lakukan, betapa beraninya aku mendikte Tuhan, menyuruh-Nya mencabut nikmat yang mungkin Ia telah kehendaki demikian.

Akhirnya aku hanya bisa berdo’a, memohon kepada Tuhan agar aku bisa menjaga hatiku tetap bersih, terhindar dari perasaan iri hati, hasud, dan dengki, dan sebaliknya memohon kepada-Nya agar melimpahi hatiku dengan perasaan lapang dada, ikhlas, dan pasrah sajalah.

07 Mei 2008

Posted in emotional feelings on May 11, 2008 by thestolenkid

kalau GIGI mengungkapkan momen 11 Januari dalam sebuah lagu, aku pikir 07 Mei 2008 pantas aku kenang dan aku abadikan dalam catatan blog. aku tidak sedang ingin membahas tentang angka-angka karena itu bukan kapasitasku. Rabu hari ini 07 Mei 2008 ada cukup banyak peristiwa yang jika aku tidak mencatatnya aku bisa setengah menyesal jika suatu masa kelak berusaha keras mengingat-ingat kembali.

hari ini aku senang karena aku berhasil membuat dan akhirnya memiliki satu blog lagi. “ah itu kan bukan sesuatu yang istimewa untuk diceritakan to?” mungkin demikian yang berkecamuk di pikiran sebagian pembaca kala tiba pada peristiwa pertama yang sedang aku ceritakan ini. Bagiku, ia tetap istimewa. Bagiku pula, secara umum, memperoleh dan memiliki sesuatu yang baru terasa berbeda satu sama lainnya. Ada perasaan tak terperi tentang rasa senang. Eksitasi yang berlebihan. Perasaan itu semakin membuncah manakala aku mampu menjadikannya jauh lebih baik. Tentu saja dengan murni kemampuanku sendiri. Perbandingannya mungkin seperti membuat pisang goreng. Anda diberi tahu tentang cara membuat pisang. Lalu kemudian anda praktekkan sendiri. Jika anda berhasil membuatnya namun sebagian besar prosesnya dibantu oleh instruktur, mungkin rasa senang yang ada tidak sebesar dan sebanyak rasa senang ketika anda berhasil membuat pisang goreng dengan jerih payah anda sendiri. Yang terakhir bisa terjadi demikian karena anda merasakan sendiri kesulitannya, sehingga rasa senang itu bisa jadi sebuah kompensasi atas semua kesukaran yang baru saja anda lalui. Ah ternyata panjang juga bahasan yang awalnya hanya karena rasa senang semata. Bisa kita sambung lain waktu, kawans.

Nah, yang berikutnya ini malah jauh lebih emosional dibandingkan yang pertama: aku berhasil bertemu dosenku! ah lagi-lagi sebuah perasaan hiperbolik. Kecuali bertemu kembali orang tua yang telah begitu lama meninggalkan kita, bukankah bertemu dosen niscaya sebuah kelumrahan? Tidak bagiku. Bagi sebagian orang – mungkin – ya.

Dosen itu baru saja akan turun dari mobilnya ketika aku sedang berjalan melintasi mobilnya. Awalnya aku enggan, tetapi jika ini aku lewatkan, aku tidak tahu kapan kesempatan itu datang lagi.

Jadi aku dengan ringannya menghampirinya ketika ia baru saja menutup pintu mobilnya. Ia terlihat terkejut. Tetapi aku jauh lebih kaget karena ternyata dia sangat ramah. Jauh dari ekspektasiku selama ini (ngomong-ngomong soal ekspektasi, bagaimana rasanya mendapati suatu kenyataan yang tidak sesuai harapan kita tetapi itu justru malah sedikit menguntungkan kita? Bandingkan dengan kenyataan yang tidak sejalan dengan harapan yang kita inginkan kebaikannya).

Batu besar itu telah terangkat dari pundakku. Ya, segera setelah itu, semua beban perasaanku langsung luruh bersamaan dengan derai tawa dan senyum dari sang dosen yang di luar perkiraanku itu. Meskipun belum sempurna aku jelaskan semua alasanku karena beliau terlihat terburu-buru, kejadian itu mengajariku banyak hal. Salah satunya, percayalah dengan hati nurani. Jangan biarkan pikiran menguasai hati. Karena yang menjadikan sesuatu itu baik atau buruk adalah pikiran (hayyoo, ucapan siapa itu?)

Menangis Massal

Posted in emotional feelings on May 10, 2008 by thestolenkid

Dua hari yang lalu aku mengikuti seminar setelah dua hari sebelumnya setuju untuk mendaftar di acara tersebut. seminar tersebut berkisah tentang ESQ, suatu metode yang dalam garis besarnya bertujuan melejitkan potensi setiap manusia. Aku sudah lama mendengar tentang metode tersebut, entah lewat buku atau media cetak yang pada pelatihannya diiklankan. “kapan lagi bisa ikut seminar itu dengan biaya murah?” adalah pemikiran utama yang mendorongku mengikutinya. Kalau engkau dapati salah satu iklan pelatihan mereka, niscaya engkau berpikir berulang kali sebelum menyetujuinya – yang sebenarnya engkau akhirnya membatalkan keikutsertaanmu. Harga tiket seminar itu IDR 5000 yang berkali-kali lipat lebih murah daripada biaya pelatihannya.

Aku punya kesan menarik saat mengikuti seminar tersebut yang karena hal itu aku menulis esai ini. Sekitar di pertengahan acara tersebut, sang pemandu terlihat seperti sedang menghipnotis kami – para hadirin. Ia, awalnya, berbicara dengan suara-suara yang sendu, mendayu-dayu, dan lirih – meskipun tetap saja terdengar karena ia gunakan pengeras suara. Lantas, ia giring kami untuk menutup mata sambil terus memperdengarkan kalimat-kalimat yang mengingatkan kami akan keluarga dan – terutama – orang tua kami.

Aku pikir menutup mata membantu setiap orang untuk berkonsentrasi. Dan benar saja. Tidak lama setelah instruksinya itu, terdengar isak tangis beberapa peserta, kebanyakan wanita, meskipun mereka tidak histeris. Aku sendiri bergeming. Tidak menangis. Tidak juga sedang sekuat tenaga menahan kedua mata ini agar tidak menumpahkan airnya. Aku punya pertimbangan sendiri kenapa aku sudah tidak menangis lagi pada saat itu.

Aku dalam hati mencibir tangisan mereka. Aku pikir mereka tidak tulus. Menurutku mereka hanya diinisiasi, lantas diinduksi yang akhirnya bermuara pada tangisan. Mungkin seperti ini analisisnya: saat mereka diminta menutup mata itulah saat inisiasi. Tahap induksi dimulai saat sang pemandu bercerita tentang kewajiban mematuhi para orang tua. Dan akhirnya mereka menangis.

Jika tidak ada stimulus eksternal semacam itu, pikiran para peserta tentu tidak akan memunculkan wajah orang tua mereka yang ditambah narasi sang pemandu pasti terlihat letih, teduh, dan menyentuh. Manipulasi pikiran. Jadi, mereka sebenarnya sedang dihipnosis ketimbang benar-benar tersentuh tentang orang tua mereka.

Aku tidak sinis terhadap metode tersebut karena aku sepakat dengan semua teorinya. yang membuatku terlihat sinis pada ESQ sebenarnya adalah praktek ‘tangis massal’. Ketimbang berbarengan menangis karena diperdengarkan semua kesalahan kita pada orang tercinta kita, aku pikir sebaiknya ada sesi berdua – antara peserta dengan sang pemandu – yang berbicara dari hati ke hati, lebih mendalam, dan tentu saja lebih mungkin untuk melekatkan hasil pembicaraan tersebut lebih lama ketimbang dibuat menangis berbarengan. Aku berani bertaruh selepas mereka keluar dari gedung seminar itu, bertemu kembali dengan teman-teman mereka, menjalani aktivitas harian mereka, orang tua mereka sudah digantikan dalam pikiran mereka oleh kesenangan dan kesukaan mereka.

Seminar tersebut juga mengetengahkan berbagai kerusakan, baik fisik maupun moral, akibat ‘melepaskan’ diri dari pengawasan Tuhan. Ritual yang dijalani selama ini hanya dijadikan sekedar pengguguran kewajiban belaka tanpa meresapkan maknanya dalam pikiran. Ini malah menimbulkan perdebatan tentang kemunculan atheisme dan agnostikisme yang kedua paham ini tak terikat pada satu pun agama manusia namun terlihat mampu berperilaku sesuai panduan dalam agama-agama tersebut.