Tiap kali aku menyapamu, sebanyak itu pula kamu membalasnya. Ada semacam kehilangan bahwa sebentar saja kamu “diam”, aku jadi uring-uringan, persis para wanita – dirimu – yang akan kedatangan “sang tamu”
Malam merambat pekat ketika aku tiba di ujung jalan menuju tempatku – juga rumahmu. Samar-samar aku melihat sesosok yang aku berusaha memastikan bahwa aku mengenalnya. Ya aku kenal dia. Aku membatin. Ia berjalan dalam cara yang aku kenal, termasuk penampilannya yang membuat kembali berdesir – sebuah sensasi yang sudah biasa terjadi ketika aku berpapasan dengan dia yang aku perlakukan “lebih”. Itu kamu. Terburu-buru karena waktu semakin kencang melaju, aku meninggalkanmu begitu saja tanpa ada keyakinan bahwa kamu merasakan pula kehadiranku.
Aku senang membuatmu terkejut. “kok tau sih?” itu yang pertama kali kamu katakan saat aku bilang aku melihatmu. “iya aku memang baru pulang. Tadi ada ujian di kampus” itu yang selanjutnya kamu katakan padaku selepas aku ceritakan bahwa aku telah melihatmu di ujung jalan sana. Lalu separuh malam itu kita habiskan bersama hanya melalui udara dan gelombang elektromagnetik karena masih ada dinding besar di antara kita. “aku ngantuk. Mo tidur dulu. Udah dulu ya” begitu kamu pamit meninggalkanku. Dan malam itu aku meninggalkan seulas senyuman pada malam yang pekat dan dingin.
Rasanya ingin aku setiap hari di sisimu. Melihatmu. Mengawasimu. Membantumu. Melindungimu. Terkadang aku merasa itu semua berlebihan, posesif, bahwa itu semua akan malah membuatmu tidak nyaman. Mungkin cintaku membutakanku. Bukan aku salah menilai dirimu. tetapi aku terlalu dalam mencintaimu. Aku terperosok dalam lubang kasih sayang yang aku buat sendiri, lantas tak mampu lolos darinya. Bukan karena aku pernah tersakiti oleh cinta lantas aku kemudian membuta dalam mencintai. Justru karena aku pernah terasing dalam hidup ini maka cinta melimpah dalam hatiku yang kelak suatu saat akan diberikan pada seseorang yang berhasil menggerakkan mengeluarkan semua persediaan cintaku itu. Mungkin kamu kemudian menyesal telah mengenalku setelah aku bercerita sampai di sini. Mungkin kamu merasa belum saatnya menerima limpahan cinta dariku, sesuatu yang membuatmu terikat selamanya. atau, kamu pikir aku terlalu berlebihan. Atau, mungkin kamu merasa aku bukan orang yang tepat untuk memberikan cinta padamu.
Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menyatakan bahwa manusia sebenarnya terasing satu sama lain. mereka lebih suka hidup dalam dunianya masing-masing. Ini bisa terlihat ketika manusia dalam kandungan berupa janin yang hidup sendiri dan benar-benar dimanja tanpa ada gangguan apapun. Keluar dari rahim melalui proses persalinan memaksa manusia menyadari bahwa mereka berada di dunia yang sama sekali asing. Mereka ingin tetap seperti di dalam rahim, tetapi jika itu mereka lakukan, mereka tidak bisa bertahan. Mulailah mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam.
Dalam abad modern ini – masih menurut The Art of Loving – manusia semakin terisolasi satu sama lain. kesibukan memaksa manusia terpisah dari manusia lain. mereka mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan manakala kesibukan tersebut telah membuat mereka merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga: kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan yang tidak cukup hanya dipenuhi secara materi saja. Lebih dari itu, ada perasaan tak-nampak yang memaksa manusia terus mencari untuk memuaskannya.
Keinginan manusia untuk menjalani keterikatan sebenarnya merupakan usaha mereka untuk memuaskan keinginan mereka akan kasih sayang. Akan cinta. Dalam cara apapun, mereka berusaha mengkaitkan diri mereka dengan manusia lain agar tidak kesepian. Tidak sendiri. Dan jika ia merasa telah menemukannya, ia dengan rela akan melakukan segalanya agar keterikatan itu tidak terlepas lagi.


