selipat 3

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

Tiap kali aku menyapamu, sebanyak itu pula kamu membalasnya. Ada semacam kehilangan bahwa sebentar saja kamu “diam”, aku jadi uring-uringan, persis para wanita – dirimu – yang akan kedatangan “sang tamu”          

Malam merambat pekat ketika aku tiba di ujung jalan menuju tempatku – juga rumahmu. Samar-samar aku melihat sesosok yang aku berusaha memastikan bahwa aku mengenalnya. Ya aku kenal dia. Aku membatin. Ia berjalan dalam cara yang aku kenal, termasuk penampilannya yang membuat kembali berdesir – sebuah sensasi yang sudah biasa terjadi ketika aku berpapasan dengan dia yang aku perlakukan “lebih”. Itu kamu. Terburu-buru karena waktu semakin kencang melaju, aku meninggalkanmu begitu saja tanpa ada keyakinan bahwa kamu merasakan pula kehadiranku.

Aku senang membuatmu terkejut. “kok tau sih?” itu yang pertama kali kamu katakan saat aku bilang aku melihatmu. “iya aku memang baru pulang. Tadi ada ujian di kampus” itu yang selanjutnya kamu katakan padaku selepas aku ceritakan bahwa aku telah melihatmu di ujung jalan sana. Lalu separuh malam itu kita habiskan bersama hanya melalui udara dan gelombang elektromagnetik karena masih ada dinding besar di antara kita. “aku ngantuk. Mo tidur dulu. Udah dulu ya” begitu kamu pamit meninggalkanku. Dan malam itu aku meninggalkan seulas senyuman pada malam yang pekat dan dingin.

Rasanya ingin aku setiap hari di sisimu. Melihatmu. Mengawasimu. Membantumu. Melindungimu. Terkadang aku merasa itu semua berlebihan, posesif, bahwa itu semua akan malah membuatmu tidak nyaman. Mungkin cintaku membutakanku. Bukan aku salah menilai dirimu. tetapi aku terlalu dalam mencintaimu. Aku terperosok dalam lubang kasih sayang yang aku buat sendiri, lantas tak mampu lolos darinya. Bukan karena aku pernah tersakiti oleh cinta lantas aku kemudian membuta dalam mencintai. Justru karena aku pernah terasing dalam hidup ini maka cinta melimpah dalam hatiku yang kelak suatu saat akan diberikan pada seseorang yang berhasil menggerakkan mengeluarkan semua persediaan cintaku itu. Mungkin kamu kemudian menyesal telah mengenalku setelah aku bercerita sampai di sini. Mungkin kamu merasa belum saatnya menerima limpahan cinta dariku, sesuatu yang membuatmu terikat selamanya. atau, kamu pikir aku terlalu berlebihan. Atau, mungkin kamu merasa aku bukan orang yang tepat untuk memberikan cinta padamu.

Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menyatakan bahwa manusia sebenarnya terasing satu sama lain. mereka lebih suka hidup dalam dunianya masing-masing. Ini bisa terlihat ketika manusia dalam kandungan berupa janin yang hidup sendiri dan benar-benar dimanja tanpa ada gangguan apapun. Keluar dari rahim melalui proses persalinan memaksa manusia menyadari bahwa mereka berada di dunia yang sama sekali asing. Mereka ingin tetap seperti di dalam rahim, tetapi jika itu mereka lakukan, mereka tidak bisa bertahan. Mulailah mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam.

Dalam abad modern ini – masih menurut The Art of Loving – manusia semakin terisolasi satu sama lain. kesibukan memaksa manusia terpisah dari manusia lain. mereka mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan manakala kesibukan tersebut telah membuat mereka merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga: kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuhan yang tidak cukup hanya dipenuhi secara materi saja. Lebih dari itu, ada perasaan tak-nampak yang memaksa manusia terus mencari untuk memuaskannya.

Keinginan manusia untuk menjalani keterikatan sebenarnya merupakan usaha mereka untuk memuaskan keinginan mereka akan kasih sayang. Akan cinta. Dalam cara apapun, mereka berusaha mengkaitkan diri mereka dengan manusia lain agar tidak kesepian. Tidak sendiri. Dan jika ia merasa telah menemukannya, ia dengan rela akan melakukan segalanya agar keterikatan itu tidak terlepas lagi.

selipat 2

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 9, 2008 by thestolenkid

“aku tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja”. Dahiku berkerut. Pikirku sedari tadi engkau telah melanglang jauh dari rumahmu. Bolehkah aku bertemu dirimu? aku menggigit bibirku. Sedapat mungkin aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tetapi, benar bahwa kenyataan selalu menyakitkan. Jika dirimu ada di rumah, kenapa aku tak kuasa mendekatimu?

Sudah berapa kali kita bertukar kata tentang siapa kita, bagaimana kita, dan seperti apa kita? Sudah seberapa sering kita saling menertawakan satu sama lain, menikmati kejelekan masing-masing dari kita? Atau, duduk terpekur mendengar keperihan diri kita masing-masing lalu merenung sejenak untuk berusaha berempati? Mereka yang berbeda kelamin akan langsung klik tatkala semua itu telah mereka lakukan. Kita masih baru. Aku tidak ingin terburu-buru. Dirimu pun tak menyiratkan apapun bagiku untuk memunculkan alasan bahwa persenyawaan kimia sedang berlangsung dalam tubuhku. Namun, terkadang cinta itu memburu terlalu cepat. Ia datang dengan tiba-tiba untuk memberi isyarat bahwa aku mungkin saja kehilanganmu jika aku tidak bersegera. Dan dua perasaan itu selalu berkecamuk dalam diriku. Yang mana yang menang? Aku pikir dirimu-lah yang menguasai keduanya. Engkau yang putuskan siapa pemenangnya. Dan aku tak kuasa berada dalam pengaruhmu meski aku masih mampu mengendalikan pikiranku.

Terkadang aku mencuri pandang, pada “saat sesekali” itu, berusaha memastikan siapa yang ada di belakangku. Terkadang dalam tegak berdiri darahku mengalir cepat, jantung berdesir tak beraturan dan empat kali posisi yang sama aku tidak bisa mengendalikan diri memikirkan lisanku. Aku hanya memikirkan hatiku. Siapa gerangan yang telah “mengguncangnya” kalau bukan dia – dirimu – yang di belakangku. Semoga Tuhan tidak menghukumku karena Dia pula yang meniupkan cinta manakala Hawa dipersiapkan dari sebilah rusuk Adam.

Aku tersadar. Lamat-lamat suara itu terdengar hingga sempurna aku dengarkan. Ketika aku melihat keluar, matahari baru saja menyemburkan kehangatannya. Aku lihat diriku. Rasanya sulit untuk tidak kembali pada masa silam jika kenyataan yang sedang aku hadapi ini tidak sesuai dengan harapanku. Tetapi, hanya dengan menerawang aku bisa kembali mengangkat semua kenangan itu bersamamu dalam tidur panjang mereka dalam alam bawah sadarku. Aku melihat jauh ke depan, berharap aku tidak pernah melakukan kekeliruan bodoh dalam hidupku. Biarkan ia dengan kehidupannya sekarang. Mungkin ia lebih baik tanpa kamu. Namun, aku bersikeras. Ini tidak adil. Bukankah aku telah berikan segalanya? Kenapa ia membalasnya seperti ini? Aku berusaha tidak mengeluarkan air mata. Tetapi hatiku telanjur menangis. Sepertinya ia sedang menghukumku. Atau aku sedang mendapat balasan dari perbuatan yang aku pernah tanpa sadar lakukan? Aku sandarkan tubuhku pada tepian dipan tempat tidurku. Dentuman drum dan cabikan gitar yang rancak dari Coldplay tak berhasil mengusir kepedihan hatiku. Karena Chris Martin malah membuatku semakin tersayat-sayat mendengarnya berlagu. Tears stream down on your face. When you loose something that you can’t replace. Ya, sesuatu yang telah hilang mungkin tidak akan kembali lagi. Mungkin juga tidak ada penggantinya.

Terkadang aku merasa bukanlah takdirku kalau kenyataannya tidak seperti yang aku inginkan. Aku merasa takdirku adalah seperti yang aku mau. Namun, berpikir betapa egoisnya aku dan Tuhan adalah segalanya ketimbang rupa-rupa para makhluk-Nya, aku memilih berdamai dengan kenyataan.

selipat 1

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 8, 2008 by thestolenkid

Pagi yang terasa sedikit membeku dan diselimuti kabut dengan sisa-sisa embun semalam masih menempel di dedaunan mendadak terasa menghangatkan sekujur tubuhku kala engkau menyapa diriku. Akhirnya penantian semalaman berakhir tidak lebih dari 12 jam. Tetapi tentu saja lebih sedikit rasa penasaran menggelayutiku saat menunggumu. Dan tentu saja aku belum mengenalmu. Berkat bantuan salah satu temanku dan kemurahan hatinya, aku diperkenankan diperkenalkan denganmu, suatu kejadian yang aku sebenarnya tidak pernah merencanakan sebelumnya. Tanpa ada kecenderungan apapun, aku hanya berharap bisa mengenal dirimu. sederhana, bukan?

Dan begitulah. Berawal dari sesuatu yang sebenarnya aku hanya berniat mengirimkannya tanpa berharap dirimu menanggapinya seperti harapanku, kisah ini mengalir. Meluncur deras dari hulu kata-katamu lalu menghempas kuat setiap persendian tubuhku yang dilewati setiap jalinan kata yang kau beri untukku hingga tepat menghantam hilir hatiku yang aku tidak bisa menahan sama sekali. Alih-alih, pertahanan hatiku benar-benar ambruk.

Sensasi kehangatan pagi berakhir kala dirimu memohonkan pamit untuk pergi ke kampus. “hati-hati” aku hanya berkata singkat, masih melalui sebaris pesan teks. Itu sebenarnya tidak demikian adanya. Sesingkat apapun kata itu, jika itu aku berikan pada seseorang yang aku berdesir karenanya, ia begitu jauh menembus relung hatiku. Pikiranku menerawang pada satu artikel tentang bagaimana orang-orang berusaha menunjukkan cinta mereka pada orang-orang terkasih mereka namun terkadang tidak berani mengungkapkannya secara langsung. Ungkapan-ungkapan wajar dan biasa, seperti “hati-hati”, “cepat pulang ya”, “aku harapkan yang terbaik untukmu” atau yang sejenis dengannya yang berintonasi datar dan dangkal, sebenarnya menyiratkan perasaan cinta yang mendalam. Mungkin bagi mereka, sudah saatnya cinta dimaknai sebagaimana seharusnya, dan bukan sekedar kata terucap secara lisan. Atau, mereka merasa tidak cukup kuat untuk mengucapkannya, tetapi sebenarnya mampu mewujudkannya. Saat aku mengucapkannya, aku hanya merasa tidak pantas mengucapkannya pada saat kita baru seumur jagung berkenalan. Setidaknya, belum saatnya. Lagipula, masih banyak yang belum aku ketahui tentang dirimu dan tidak sopan namanya kalau langsung “menusuk” hati dan perasaanmu dengan kata-kata kasih sayang itu secara eksplisit.

Jika aku berani untuk kembali menyapamu, aku belum bisa pastikan kekuatan apa yang mendorongku melakukan hal demikian. Atau, jika kamu belum mengetahuinya, aku bisa pastikan bahwa itu semata hanya usahaku untuk mempererat perkenalan kita yang, karena masih baru, tentu sangat rapuh untuk terlepas lagi. Sebuah usaha, yang terkadang ironisnya, sering menjatuhkan aku dalam kesalahpahaman. Aku seperti menyiapkan jebakan untuk diriku sendiri. Sebuah perangkap yang awalnya aku melihatnya, tatkala sedang membangunnya, akan seperti sarang yang cantik dan nyaman untuk ditinggali dan didiami. Atau, pikirkan saja bahwa aku sedang penasaran tentang kamu. Apalagi yang bisa ketahui dari sebuah bangunan tinggi yang menjulang dan berpagar serta berpintu rapat selain warna-warna kusam dan kaku dari sekujur dinding-dindingnya di sekelilingnya? Apalagi yang bisa kita ketahui dari seseorang yang kita hanya sesekali melihatnya pada waktu-waktu tertentu untuk kemudian menghilang dalam lorong panjang nan gelap selain namanya? Apakah kita punya kuasa untuk mendekatinya? Apakah kita tahu apa yang sedang ia kerjakan di dalam? Apakah kita diperbolehkan mendekatinya meski itu hanya sepanjang kaki kita? Aku tak pernah sedekat itu padamu. Tidak pada saat itu. Rumahmu bukanlah sebuah benteng besar. Tetapi itu sudah cukup mencegahku untuk masuk ke dalamnya.

Prolog

Posted in Tolong Baca Hatiku on June 8, 2008 by thestolenkid


PROLOG

aku pikir awalnya aku bisa hidup selamanya denganmu. kini aku mengerti bahwa bahkan besok saja aku mungkin belum tentu memperoleh pesan singkatmu lagi saat sekarang ini pun aku begitu dibiarkan ‘dahaga’ menunggu pesan singkatmu membalas milikku. terkadang aku berpikir ini tidak adil bahwa kamu perlakukan aku seperti itu. tetapi, lebih jauh merenung, aku tersadar bahwa kamu punya pertimbangan sendiri dengan keputusanmu itu dan aku tentu saja harus menghormatinya. lagipula, naif sekali kalau kita melakukan sesuatu hanya untuk mengharapkan balasan. hal-hal seperti itu yang belakangan meraja dalam pikiranku membuatku lebih realistis dan dewasa dalam mengendalikan perasaanku dan terutama sekali dalam memperlakukan dirimu. tetapi, agar kamu tahu, ada suatu peristiwa yang aku begitu berharap kamu bisa datang. setidaknya melalui pesan singkatmu. bahwa dalam keadaan yang begitu melelahkan dan menjemukan saat diriku didera, kedatanganmu bisa menjadi pelipur semua kegundahan dan kesumpekan itu. aku hanya membutuhkan kedatangan seseorang yang begitu aku mengetahui keberadaan dirinya, semangatku bangkit lagi. harapanku membumbung tinggi. rasa senang menggelayutiku. dan keceriaan menghampiriku. jika itu tidak lagi memungkinkan, aku tidak berharap menemukan penggantinya ketika aku mungkin merasa pengharapanku telah sirna. sebagai gantinya, aku berusaha bertahan pada selarik lirik yang didendangkan dalam nada yang teratur rapi. kamu pasti mengerti maksudku.

jujur saja, aku sekarang kecanduan dirimu. cinta memang membuat ketagihan, dalam cara apapun sehingga hanya mereka yang terlibat yang mengetahuinya. yang pasti, ada sekelebat perasaan aneh terbang dalam hatiku, yang membuat jantungku berdesir, yang meski tidak kencang, cukup membuatku mengerti bahwa itu bukan perasaan biasa. aral yang aku sedang hadapi sekarang adalah bahwa kamu mungkin tidak merasakan perasaan yang sama dalam dirimu saat ini. tidak sebanyak dulu. atau mungkin telah hilang sama sekali. bertepuk sebelah tangan ya?

to forget you

Posted in emotional feelings on June 1, 2008 by thestolenkid

hari ini aku membaca wawancara wartawan Jawa Pos dengan rektor Universitas Paramadina, Anis Baswedan tentang pengajaran anti korupsi sebagai mata kuliah dasar umum. sang rektor menjelaskan bahwa orang melakukan korupsi karena ada dua faktor: keinginan (willingness) dan kesempatan untuk korupsi (an opportunity to corrupt).
aku tidak bermaksud menantang ide-ide sang rektor. tetapi, justru dari wawancara itulah aku memperoleh inspirasi. inspirasi untuk melakukan sesuatu hal besar yang selama ini sepertinya aku selalu gagal melakukannya: melupakanmu.
engkau tidak seperti dia, dia, atau dia yang dengan mudah aku melupakan atau dilupakan. atau, aku pun terlihat sengaja tidak melupakanmu. yang jelas aku memperoleh pencerahan pagi ini via wawancara itu.
aku gagal melupakanmu karena aku sengaja (yang berarti ada niat) untuk mengingatmu. aku dengan rela membiarkan dirimu menguasai pikiraku dengan semua pesona palsumu. sepertinya aku tidak mampu membedakan mana yang merupakan cinta dengan perasaan sekedar kagum. aku mencampuradukkan keduanya.
jadi sekarang inilah saatnya. tidak ada kompromi. semua harus aku memandangnya secara hitam putih. jika tidak seperti ini, harus seperti itu. tidak bisa ini-itu.
aku telah memancangkan niat untuk melupakanmu. itu adalah awal yang bagus. tetapi satu faktor saja tidak cukup. makanya aku akan menutup semua celah yang bisa menggiringku untuk kembali mengingatmu. satu pintu telah aku identifikasi: hari ultahmu. aku tetap mengingatnya. tetapi, maaf saja aku merasa ‘kering’ saat mengingatnya untuk merayakannya. juga pada saat merayakannya.
tujuh hari lagi … enam hari lagi … semua akhirnya gagal di tengah jalan karena agenda agung ini. aku tidak menyesalinya. karena dirimu pun tidak pernah mau peduli pada hati dan perasaanku.

siapa kamu?

Posted in emotional feelings on June 1, 2008 by thestolenkid

malam ini aku merindukanmu. kamu membuatku sedikit terlihat bodoh di depan teman-temanku. aku pikir mereka sekilas melihat aku tersenyum meski tiada satu pemandangan pun yang menjadi alasan aku tersenyum. aku tidak peduli. sekelebat dirimu dalam pikiranku membuatku tiba-tiba bersemangat. ada energi aneh yang menjalari seluruh sendi dan tulang-tulangku. sebuah kekuatan, menurutku, yang membuat otakku aktif kembali bekerja. tidak diam seperti biasa. karena kerinduanku padamu yang mendalam, tiba-tiba saja suaramu terdengar jelas dalam pikiranku, menghentak hebat dalam setiap sambungan neuron dan dendrit di kepalaku. suaramu membelai lembut kekosongan hatiku. dan aku merasakah sentuhan itu. gingsul gigimu, yang membuatmu semakin cantik dalam kesederhanaan, membuatku memejamkan mataku erat-erat, sebuah usaha agar aku bisa mempertahankan dirimu, meski hanya sebatas khayalanku.
entah apa lagi yang harus aku lakukan. alasan berikutnya macam apa yang bisa aku pura-purakan hanya untuk mendekatimu. hanya itu, hingga saat ini, satu-satunya cara agar aku selalu dekat denganmu. supaya aku senantiasa merasa memilikimu. meski aku tidak tahu yang sebenarnya. tentu aku tidak menyerah. dan akan aku biarkan perasaan seperti ini berkembang. perasaan positif yang memunculkan rasa optimisme dalam diriku untuk menjelang hari esok.
ya, tiba-tiba saja aku mendapati diriku tidak sabar menyongsong hari esok. sebuah kejadian yang aku sendiri tidak pernah menduganya. sebelumnya, setiap pergantian hari adalah sesuatu yang biasa. sekarang, aku selalu berbinar. bersemangat. memandang hari esok sebagai sebuah tantangan yang harus aku taklukkan untuk mendapati sesuatu yang aku kejar dan harus aku raih. dan aku senang alasan aku melakukan semua itu karena dirimu. karena aku telah jatuh cinta padamu. meski mungkin ini seperti jalan tak berujung dalam meraih cintamu. entah siapa nama kamu, Sayang.

Kangen

Posted in emotional feelings with tags on June 1, 2008 by thestolenkid

tiba-tiba saja aku merindukanmu. aku tidak bisa memastikan bagaimana hal itu bisa terjadi. aku sudah lama tidak memikirkanmu. teman-teman kita pun tidak pernah menyinggung dirimu ketika menyapaku. aku pun tidak pernah berusaha menanyakan kabarmu melalui mereka. aku tahu keadaanku. aku juga mengerti apa yang telah terjadi padamu. dirimu sudah tidak bisa aku usik lagi selepas engkau memutuskan mengikatkan dirimu dalam pertalian suci yang niscaya tak satu kekuatan pun di dunia ini bisa memutuskannya. aku sadari itu. aku yang menarik diri meski engkau mungkin tidak menginginkannya.
aku sadar jika sekarang kau tidak sedang memikirkanku. meski aku pernah meletakkan sesuatu yang berarti dalam sebuah perjalanan hidupmu, aku pikir kamu pasti merasa tidak pantas jika terus menyimpannya. kamu benar. separuh hatimu telah menggeser aku keluar dari hatimu, terisi oleh satu kisah baru yang kau hendak melanjutkannya menuju masa depan.
tetapi kenapa aku masih memikirkanmu, meski setahun telah berlalu sejak engkau diberkahi di depan altar dan terikat perjanjian suci? engkau mungkin telah pergi dari kehidupanku – meski aku tidak menginginkannya. aku masih berdiam di masa lalu mengenang setiap saat pertemuan kita, setiap tatapan kita, dan terutama setiap masa yang engkau justru pernah melukaiku. sekarang semua itu dibangkitkan lagi oleh senarai alunan nada lembut yang mampu memunculkan lagi semua gambaran itu. senang. sedih. marah. dongkol. kecewa. semua jadi satu. aku punya alasan  untuk membencimu, lalu memutuskan untuk membuat perhitungan denganmu sebagai sebuah pembalasan atas semua yang pernah kau lakukan. tetapi cintaku padamu terlalu besar untuk dikalahkan oleh sebongkah dendam yang belakangan memudar. aku mencintaimu dengan kebencianku. aku membencimu jika mengingat semua perlakuanmu padaku. tetapi itu pula pada saat yang sama membuatmu terus mencintaimu. dan percayalah, pergumulan yang terjadi dalam perasaanku jauh lebih romantis ketimbang apa yang pernah aku ungkapkan padamu. untuk saat ini, selamat malam, Sayang.

Baru

Posted in general with tags on June 1, 2008 by thestolenkid

“yang baru… yang baru… yang baru…” bagi kita yang sering berada di tempat ramai, semisal terminal atau stasiun kereta api, teriakan tersebut tentu tidak asing lagi. bahkan, salah satu koran nasional negeri ini menyelipkan “baru” dalam semboyannya: selalu ada yang baru. ya “baru” memang menegaskan sesuatu yang segar, belum ada sebelumnya, atau diciptakan berbeda dari benda sebelumnya. dan itulah mengapa aku menulis tentang “baru” ini.
hari ini adalah awal bulan Juni. berarti bulan baru lagi kan? tidak seperti menyambut tahun baru, kali ini aku sangat antusias dalam menyambut pergantian bulan ini. aku telah siapkan begitu banyak rencana untuk aku wujudkan di bulan keenam dalam 12 bulan kalender masehi ini.
entah kenapa, aku tidak pernah seoptimistik ini di bulan Juni. tetapi aku percaya, sesuatu yang baru memang memberikan semangat bagi siapapun untuk memulainya. aku seperti dibangkitkan kembali. dan aku menjalani waktu-waktuku di bulan Juni ini dengan penuh semangat.
aku telah tetapkan banyak hal. pertama, tentang karir penerjemahku. jika dulu aku selalu berkutat dengan jumlah yang biasa-biasa saja, sekarang aku tetapkan target yang mungkin bagi orang lain pun terdengar sangat berlebihan dan tidak masuk akal. tetapi itu adalah caraku memotivasi diriku melakukan yang terbaik. dan aku yakin aku pasti bisa. bukan menentang takdir, hanya berusaha memancing yang terbaik keluar dari diriku.
berikutnya, aku bertekad “memenuhi” blog yang baru saja aku buat dengan tulisan apa saja. ini sebenarnya pun merupakan latihan untuk mempertajam kemampuan baru yang baru saja aku jelajahi. ini juga bagian dari obsesiku. ambisiku.
itu semua mengajarkanku satu hal. bahwa dalam hidup ini aku harus punya tujuan, tak peduli seperti apa tujuan itu. hidup tanpa tujuan hanya membuat hidup ini tak terarah dan tak bermakna. bayangkan, ada tujuan yang harus diraih. ada tanggung jawab yang harus diemban. begitulah seterusnya.

MEMBEBASKAN DIRI

Posted in general with tags on May 18, 2008 by thestolenkid

Pertama adalah Dan Brown. Ia menghentak dunia melalui novel monumentalnya, Da Vinci Code yang katanya “Memukau Nalar dan Mengguncang Iman”. Terutama kalangan kristen meributkannya hingga Vatikan harus repot-repot menulis buku tandingan untuk membantah semua isi novel tersebut. anehnya, Dan Brwon seperti membuka jalan bagi karya-karya sejenis untuk bermunculan, baik yang sekedar memanfaatkan ketenaran kata “code” maupun yang benar-benar serius: “menguliti” ajaran kristen yang sebenarnya.

Yang terbaru adalah Messiah Conspiracy. Buku yang aslinya berjudul The Last Templar ditulis oleh Raymond Khourry. Bagi mereka yang terlanjur gandrung pada Da Vinci Code, mungkin akan timbul sedikit “cibiran” pada karya ini dan penulisnya hanya untuk menunjukkan kesamaan benang merah di antara keduanya: berusaha mengurai kehidupan Yesus terutama ajaran-ajarannya dan mempertanyakan ajaran kristen yang sudah mapan puluhan abad hingga saat ini.

Tetapi kenapa mereka melakukan itu – melalui novel-novel mereka? Tidakkah mereka takut kepada Vatikan – yang konon merupakan wakil Tuhan di dunia? Terlepas dari keabsahan kebenaran yang mereka uraikan dalam novel mereka, keduanya berusaha untuk membebaskan diri mereka – dan miliaran orang lainnya di luar sana – dari ajaran dogmatis dan ketaatan semu. Itu adalah watak dasar manusia yang tidak ingin dikekang oleh kekuatan apapun – sebuah keyakinan yang sebenarnya condong kepada kesombongan. Watak berikutnya adalah, apa lagi kalau bukan, rasa ingin tahu. Kita tidak sezaman dengan para nabi dan rasul itu. Tentu saja. Tetapi, seiring dengan kemajuan teknologi, apa sih yang tidak mungkin? Mungkin itu yang ada di benak mereka. Berbekal berbagai bacaan, ensiklopedia yang jika diurutkan ke atas bisa menjadi menara babel – bukti lain kepongahan manusia – mereka berusaha merekonstruksi masa silam dalam suasana modern.

Apapun usaha yang mereka tempuh, mereka agaknya menemui jalan buntu. Kenapa? Coba baca bab-bab terakhir Messiah Conspiracy, terutama saat Tess berjalan-jalan di pulau setelah mereka diselamatkan nelayan setempat. Ia melihat orang-orang tersebut justru berbahagia karena ajaran yang, menurut mereka, palsu. Di atas itu semua, ada Kekuatan Maha Besar yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun dan apapun. Namun – seperti yang Ia ramalkan – selalu ada saja dari sebagian manusia yang menaruh keraguan pada-Nya.

THE TEMPLAR

Posted in general with tags on May 18, 2008 by thestolenkid

Apa yang ada di benak anda ketika ketiga nama ini disodorkan pada anda: Dan Brown, Adnan Oktar, dan Raymond Khourry? Buku yang fenomenal selalu menjadi bestseller di dunia merupakan jawaban yang tak terelakkan lagi. Itu benar. Tetapi, jika anda sedikit lebih jeli, ada benang merah dari isi buku-buku mereka yang menjadikannya identik.

Dan Brown, pertama-tama, menyinggung tentang sebuah kelompok rahasia – sebuah ordo – yang Leonardo Da Vinci diduga bergabung di dalamnya. Raymond Khourry, berikutnya, menjelaskan bahwa kelompok rahasia tersebut selama sembilan tahun – sesuai isi novelnya – berkutat hanya di dalam kuil. Terakhir, Adnan Oktar – atau terkenal dengan nama pena Harun Yahya – menyingkap misteri kelompok ini bahwa mereka adalah sisa-sisa prajurit perang salib.

And the answer goes to … ya benar sekali. Yang mampu membuat ketiganya bak kembar siam adalah … The Templar. Para ksatria kuil.

Tetapi apa yang menarik dari mereka? Lagi-lagi kita harus “berterima kasih” kepada Dan Brown. Berkat novelnya, para ksatria ini memperoleh “popularitasnya” yang mungkin awalnya tiada seorang pun yang menyadarinya. Baik Brown maupun Khourry, di satu sisi, memandang The Templar sebagai korban konspirasi – inilah benang merah novel mereka – tingkat tinggi untuk memalsukan sebuah keyakinan yang dewasa ini mampu “menggaet” miliaran orang ke dalamnya. Harun Yahya, di sisi lain, malah berpendapat mereka inilah yang menyebabkan dunia menjadi yang sekarang kita rasakan ini – gejolak dimana-mana, ketidakadilan dan keserakahan merajalela.

Lalu mana yang benar? Entahlah. Tak satu pun klaim mereka entah terbantahkan atau terbuktikan. Yang pasti – dan tentu saja yang mengasyikkan – jerih payah mereka telah membuat para pembaca karya mereka larut dalam setiap narasi yang mereka hadirkan seolah-olah mereka sedang diberikan dongeng pengantar tidur.